28 Maret 2018 | dilihat: 142 Kali
Pesan Mendagri untuk Himpunan Putra- Putri Keluarga Besar TNI AD
noeh21

WARTAONE.NET      ||     JAKARTA - Selasa, 27 Maret 2018, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menerima perwakilan Himpunan Putra- Putri Keluarga Besar TNI AD (Hipakad) yang berkunjung untuk audensi.  Dalam pertemuan itu, Mendagri didampingi Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri (Kapuspen Kemendagri), Arief M Eddie, Direktur Organisasi Kemasyarakatan Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum, La Ode Ahmad Fidani dan Kepala Bagian Humas Kemendagri, Acho Maddaremmeng.

Dalam pertemuan itu, Ketua Umum Hipakad, Benny Nababan, meminta kesediaan Mendagri untuk jadi penasehat organisasi tersebut. Benny juga menyampaikan dalam waktu dekat, akan ada pelantikan pengurus Hipakad dari  34 Provinsi. " Rencana pelantikan dilakukan sampai bulan Juni 2018. Harapan kami berharap pada 5 tahun kedepan Pak Tjahjo dapat memimpin di lembaga Pemerintahan lainnya," kata Benny.

Benny juga menjelaskan tentang sejarah awal mula terbentuknya Hipakad. Katanya, Hipakad terbentuk  pada 20 Juni 1963. Hipakad dibentuk dengan tujuan ikut merawat dan  mengamankan NKRI. " Kami meminta arahan kepada Mendagri untuk menjadi lebih baik serta menimbulkan rasa bangga menjadi anggota Hipakad," katanya.

Menteri Tjahjo sendiri dalam pertemuan itu sempat bercerita tentang ayahnya. Kata Tjahjo, ayahnya juga seorang pejuang. Pernah menjadi anggota PETA di zaman pendudukan Jepang. Kemudian jadi tentara.

"Ayah saya adalah alumni PETA saat itu menjadi anak buah Jendral Widodo, waktu itu tentara jika ingin naik Pangkat harus sekolah. Ayah saya saat itu tidak mau sekolah dan memutuskan untuk pindah ke Polri di Poltabes Semarang tepatnya," katanya.

Tjahjo tentunya mendukung penuh keberadaan Hipakad. Tapi ia berpesan, Hipakad jangan jadi organisasi yang eksklusif. Namun Hipakad harus menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Dan, bersama-sama berkarya untuk masyarakat.

"Saya berharap teman ormas dapat menyalurkan aspirasi dan mengorganisir masyarakat. Adik-adik kami di IPDN juga harus mampu menyiapkan diri untuk terjun dan melayani masyarakat," ujarnya.

Apalagi Presiden Jokowi mempunya tekad mengejar ketertinggalan Indonesia oleh negara lain. Dan, di pundak serta tangan anak-anak muda masa depan bangsa dipertaruhkan. Ia contohkan, dulu Malaysia dan Cina belajar tentang pembangunan jalan tol dari Indonesia. Tapi  sekarang mereka lebih cepat dalam membangun jalan tol. Tentu, ini harus jadi pelajaran berharga. Karena itu Presiden Jokowi sangat mengapresiasi jika ada anak muda Indonesia yang punya karya dan inovasi. Selalu mensupport-nya. Di samping, terus memacu pembangunan infrastruktur. Sehingga kedepan, bangsa ini sudah punya fondasi kuat.

"Pak Jokowi ingin memacu mengejar ketinggalan setelah 72 tahun Merdeka yaitu dengan cara memperbaiki infrastruktur mulai dari Sabang sampai Marauke untuk menyatukan mereka seperti lagu dari Sabang sampai Marauke. Mau naik transportasi apapun kita dapat mencapainya" katanya.

Membangun infrastruktur, kata Tjahjo, bukan perkara mudah. Dan hasilnya pun tak bisa dirasakan dengan instan. Tapi pembangunan infrastruktur, manfaatnya jangka panjang. Sekarang, dengan makin baiknya wajah infrastruktur di Tanah Air, sudah ada geliat positif di berbagai sektor.

"Ekonomi dapat dirasakan seperti membaiknya swasembada pangan beras dan air sekarang lebih mudah didapat itulah sebab mengapa Pak Jokowi membangun dari pinggiran," ujarnya.

Tak lupa, Tjahjo mengingatkan tentang tugas dan kewajiban menjaga NKRI. Hipakad, membawa marwah dan nama baik TNI AD. Tentu, kewajibannya menjaga marwah dari Sapta Marga. Spirit Sapta Marga itu yang harus jadi tegakkan dalam setiap kegiatan organisasi. Ia contohkan, prajurit sampai meninggalnya, memegang teguh Sapta Marga. Dan di ingatkan pula, setiap ormas yang hidup di Indonesia, harus menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai pedoman. Merawat dan menjaga NKRI. Serta, menghormati kebhinekaan. Karena itu, kalau ada orang per orang, atau kelompok yang nyata-nyata anti Pancasila dan NKRI, ormas seperti Hipakad harus berani menentukan sikap, siapa kawan, siapa lawan.

"Kuncinya kita harus menentukan sikap yaitu siapa kawan siapa lawan dalam individu atau kelompok yang mau merubah Pancasila. Kemudian jangan sampai UUD 1945 dirubah walaupun titik dan komanya," katanya.

Kemudian Tjahjo menjelaskan, kenapa pemerintah sampai mengeluarkan Perppu Ormas. Menurut dia, Perppu itu dikeluarkan, sebagai warning saja, bahwa Pancasila dan NKRI itu harga mati.

"Artinya silahkan berdakwah atau apapun tapi jangan merubah dari nilai Pancasila dan kepentingan ormas tersebut," katanya.

Tjahjo juga sempat mengomentari tentang pernyataan bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030. Kata dia, memang ada contoh Yugoslavia, yang bubar dan terpecah jadi beberapa negara. Tapi, bangsa Indonesia harus optimistis. Tugas pemimpin terus menumbuhkan optimisme, bukan kemudian menyemai rasa pesimis. Karena tugas seorang pemimpin itu menggerakkan optimisme. Bukan menyuburkan pesimisme.

"Harus optimis indonesia harus terus maju. Jangan bilang indonesia akan bubar" kata Tjahjo

Tjahjo juga meminta Hipakad menjaga iklim sosial politik di negari ini tetap aman. Apalagi, ada dua agenda besar di tahun ini, Pilkada serentak dan dimulainya tahapan Pilpres. Ia minta, Hipakad mengawal dua agenda besar tersebut. Sehingga tahapan pesta demokrasi di Indonesia, bisa menjadi pesta rakyat yang bermartabat. Bukan kemudian dirusak oleh racun demokrasi, seperti ujaran kebencian, hoax, fitnah dan politik uang. "Mari jaga Pilkada," kata Tjahjo.

Tjahjo juga mengingatkan tentang bahaya narkoba. Hipakad kata Tjahjo, harus ikut aktif memerangi narkoba. Karena itu sudah jadi penyakit bangsa yang berbahaya.

Berita Terkait

00026499

Total pengunjung : 26499
Hits hari ini : 79
Total Hits : 127010
Pengunjung Online : 1

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)