03 November 2016 | dilihat: 373 Kali
Teluk Palu Sudah Tidak Aman Lagi untuk Budidaya dan Wisata Bahari
noeh21
(mongabay)

WartaOne, Jakarta - “Tahun 2005-2007 itu masa jayanya petani rumput laut, hasil panen melimpah dan harga juga lumayan mahal. Istri saya sampai bisa naik haji dari hasil panen masa itu,” kenang Lakome, petani rumput laut di Kayumalue, Palu, Sulawesi Tengah.

Dulu sekali, katanya, sebagian besar pesisir Teluk Palu ini ditanami rumput laut, mulai dari Loli, Watusampu sampai dengan daerah Labuan, hampir semua nelayan tanam rumput laut. Bahkan sampai membentuk kelompok petani rumput laut.

“Disini menjadi model percontohan dan tempat orang luar belajar cara budidaya rumput laut, bahkan dari luar negeri seperti Jepang, Korea juga ada yang datang.”

Karena berhasilnya budidaya ini, Walikota Palu kala itu, Rusdy Mastura, memberi bantuan dan menjadikan rumput laut kami sebagai salah satu komoditi penting dari hasil Teluk Palu, lanjutnya.

Adapun jenis rumput yang dibudidayakan adalah Kappaphycus alvarezii, Gracilaria dan E.Cottony, yang awalnya bibitnya didatangkan dari Makassar.

“Itu dulu, sekarang sudah tidak ada lagi sejak panen sering gagal dan harga jual rendah. Kami juga tidak punya pasar, bibit juga susah dan mahal. Sekarang semua orang sudah menyerah.”

Pandangan pria berusia 72 tahun ini meredup, saat mengingat masa sulit bagi petani rumput laut di pesisir Teluk Palu yang sekarang tinggal cerita.

Lebih lanjut tuturnya, budidaya rumput laut di perairan Teluk Palu pun terserang ice-ice. Penyakit ini dikarenakan serangan mikroba. Penyakit ini menyebabkan matinya rumput laut yang menyebabkan gagalnya panen.

Dalam serangan ice-ice, akan timbul bintik-bintik di batang (tallus), warna berubah jadi putih dan patah-patah (putus). Penyakit ini biasanya muncul di perairan yang mengalami perubahan kualitas air dan suhu, termasuk pengaruh limbah dan lumpur yang berasal dari daratan.

“Ada yang bilang ini semua karena limbah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dekat sini. Limbahnya itu yang buat rumput laut tidak mau hidup lagi. Tapi saya masih sangsi, mungkin juga ini karena lebih pada faktor cuaca yang kurang mendukung,” terang Lakome.

Apakah Limbah PLTU Mencemarkan Teluk Palu?

Dugaan bahwa limbah PLTU mencemarkan perairan Teluk Palu menjadi perhatian Profesor Mappiratu, ahli kimia dan staf pengajar dari Universitas Tadulako, Palu yang pernah melakukan penelitian budidaya rumput laut di Watusampu dan Tavaili.

“Waktu itu, kami mempertanyakan mengapa bisa rumput laut tidak bisa tumbuh lagi. Jadi kami mencoba jejaki apa sebabnya,” jelas Mappiratu saat dijumpai oleh Mongabay Indonesia.

Di beberapa titik di sekitar PLTU Mpanau, Mappiratu dan timnya mengambil sampel air, termasuk mencermati limbah air laut yang digunakan sebagai mediator pendingin mesin PLTU.

“Hasil yang kami dapat, derajat keasamam (pH) air hanya 4 sementara ambang batas pH untuk budidaya kelautan itu harusnya diatas 7. pH 5 kebawah sudah tidak aman, jadi menurut kami itulah yang menyebabkan gagalnya budidaya rumput laut.”

Dari simpulan tim penelitian, derajat keasaman air yang rendah diduga berasal dari aktivitas PLTU Mpanau yang menggunakan batubara sebagai bahan baku utama pembangkit listrik untuk Kota Palu.

“Dari fly ash (abu terbang) batubara yang berasal dari limbah pembakaran PLTU menghasilkan asam sulfur dan itu berbahaya, jatuh kelaut malah lebih berbahaya, karena akan mengancam kehidupan biota laut. Hal inilah yang kami duga sebagai pemicu dari kegagalan budidaya rumput laut dan berkurangnya ikan di perairan sekitar PLTU Mpanau.”

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Palu, Musliman mengakui bahwa ada masalah dengan penggunaan batubara sebagai sumber energi pembangkit listrik. Di sisi lain, dia mengungkapkan bahwa biaya operasional tenaga batubara merupakan yang paling murah saat ini.

“Saya juga berharap pihak PLTU dapat segera menyelesaikan permasalahan limbah fly ash  secepatmya karena mencemari udara dan berbahaya bagi lingkungan,” terang Musliman.

Meski berbahaya bagi lingkungan, menurutnya limbah debu terbang dapat diolah menjadi batu bata ringan sebagai materiil bangunan jika dikembangkan teknologinya. Dia mengaku, sudah banyak pihak yang mau melakukan, meski hingga saat ini izin proses pengangkutan dan infrastrukturnya masih belum memenuhi standard kelayakan.

Selain itu, menurut Musliman, proses air pendingan buangan mesin PLTU pun turut mendorong suhu perairan dan mengganggu kehidupan ekosistem yang ada di sekitarnya. Buangan air untuk pendinginan ini, menyebabkan suhu perairan di Teluk Palu meningkat.

“Untuk mengatasinya, kami mendorong pihak pengelola PLTU membuat turbulensi batu, karena batu bisa menjadi mediator panas yang baik dan segera akan dilakukan,” jelas Musliman.

Hal ini, lanjutnya, sudah pernah dilakukan sebelumnya namun hasilnya tetap sama, suhunya masih tinggi, karena turbulensi batu yang dibuat mungkin kurang besar. Dan jika turbulensi batu lebih diperbesar, dia berharap solusi ini dapat mengatasi dampak kenaikan suhu diperairan.

Teluk Palu Sudah Tidak Aman Lagi untuk Budidaya dan Wisata Bahari

Terancamnya perairan Teluk Palu akibat pencemaran, pun telah diteliti lewat riset yang dilakukan oleh Budyanto Nura Somba, Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Pertanian Universitas Tadulako.

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa perairan Teluk Palu sudah tidak tidak aman lagi untuk wisata bahari ataupun budidaya karena sudah tercemar.

“Tahun Lalu (2015) saya melakukan riset pencemaran air Teluk Palu di 10 stasiun, mulai dari mulut luar teluk, Lero, Pantoloan, Mamboro, Talise, Depan Jembatan Palu, Watusampu, Loli, Sungai Palu dan Kanal Talise,” kata Budyanto, yang juga bekerja di Dinas Kelautan Provinsi Sulawesi Tengah.

Hasil yang didapat diluar perkiraan. Dari hasil analisis Laboratorium di Makassar untuk kondisi di stasiun perairan Mamboro, kandungan logam berat kadmium (cd) diatas ambang batas yaitu 0.03 dan Stasiun Pantoloan terdapat logam berat merkuri (hg) 0.0076.

Padahal, standard baku mutu untuk wisata bahari dan biota laut berdasarkan KEPMENLH No. 51 Tahun 2004 untuk kadmium dan merkuri adalah 0.001 mg/l.

“Kami kategorikan tercemar sedang, tapi untuk kasus kadmium dan merkuri  itu berbahaya, ini baru di air bagaiman dengan endapan (sedimen), kami menduga kuat kadmium itu berasal dari hasil limbah batubara PLTU Mpanau,” terangnya.

Dia pun menduga bahwa cemaran inilah yang menyebabkan budidaya rumput laut sulit untuk hidup.

Menurut Budyanto, kadmium di perairan Teluk Palu bersumber dari batubara yang berceceran saat pengangkutan di tongkang, dari truk pengangkut menuju ke PLTU Mpanau. Ceceran batubara kemudian menyatu dengan tanah dan air karena posisi PLTU, berada tepat di pesisir Teluk Palu yang menyebabkan limbah langsung mengalir dan menyatu dengan air laut Teluk Palu.

Letak geografis Teluk Palu sebagai outlet final pun menjadi tempat berkumpulnya air dari berbagai air pedalaman termasuk sungai, yang membawa berbagai sedimen dan endapan.

“Banjir dan arus air teluk masuk kedalam teluk bukan keluar, dipengaruhi oleh dua palung yang memutar massa air masuk lebih banyak dibanding keluar, otomatis limbah dibawa kemana-mana dan mengendap didasar teluk,” jelasnya.

“Selain itu debu pembakaran yang tidak ditangani dengan baik, kemungkinan besar sudah menyebar ke seluruh teluk menyatu dengan  sedimennya.”

Dampak lingkungan di Teluk Palu memang perlu menjadi perhatian. Jika tidak, maka area ini akan menjadi wilayah yang tidak produktif dan tidak menyejahterakan masyarakat sekitarnya. (mongabay/ep)

 

 

 

Berita Terkait

00031353

Total pengunjung : 31353
Hits hari ini : 130
Total Hits : 156686
Pengunjung Online : 1

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)