23 November 2016 | dilihat: 1390 Kali
Tan Malaka Dibunuh oleh Bangsanya Sendiri
noeh21
(Ist)

WartaOne, Jakarta - Jika pergi ke kampung halaman Tan Malaka di Suliki, Anda akan temukan banyak nisan kuburan atas nama Tan Malaka. Selain rumah gadang keluarganya yang sederhana namun masih tegak berdiri, puluhan meter dari rumah tersebut, terhampar kuburan-kuburan Tan Malaka. Lebih dari satu. Bukan hanya satu. 

Tan Malaka bukan nama kecil. Tan Malaka adalah gelar adat di kampung tersebut. Tan Malaka yang kita kenal sebagai pejuang kemerdekaan yang revolusioner bernama kecil Sutan Ibrahim. Bocah cerdas lulusan Kweekschool Bukittinggi itu di kemudian hari mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dengan berbagai cara, di berbagai tempat, dengan berbagai nama alias.

Tidak disukai Comintern, berseberangan pendapat dengan Stalin, dimusuhi PKI walau pun menjadi pendirinya, dikejar-kejar polisi dan intel kolonial Inggris maupun Belanda. Tapi yang paling tragis adalah: ia dibunuh oleh orang sebangsanya sendiri, dibunuh justru di masa kemerdekaan sebuah negara yang ia ikut memperjuangkannya dengan penuh seluruh.

Tan Malaka tewas ditembak oleh pasukan militer Indonesia tanpa pengadilan di Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, pada 21 Februari 1949. Eksekustornya berasal dari Brigade Sikatan atas perintah petinggi militer Jawa Timur. Tan Malaka dibunuh karena perlawanannya yang konsisten terhadap pemerintah yang bersikap moderat dan penuh kompromi terhadap Belanda. 

Tapi sebelum diketahui kuburannya, kisah kematian Tan Malaka masih diselubungi misteri. Bahkan lokasi kuburnya pun tidak diketahui persis. Titik terang mulai tampak berkat kegigihan Harry Albert Poeze, sejarawan Belanda yang mengabadikan seluruh karir akademiknya sampai sekarang untuk menulis hayat dan karya Tan Malaka.

Harry Albert Poeze menemukan makam Sutan Ibrahim gelar Tan Malaka tersebut sekitar 2007. "Berdasarkan data sejarah, penelitian saya, dan pendapat ahli forensik antropologi sudah jelas bahwa Desa Selopanggung merupakan tempat peristirahatan terakhir Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka,” katanya. 

Pihak keluarga besar Tan Malaka pun juga seyakin dengan Harry Albert Poeze jika di jenazah Tan Malaka bersemayam di Selopanggung.  Ketika dilakukan penggalian, kerangkanya dalam keadaan duduk dan terikat.

“Itu terungkap waktu dibongkar pertama kali untuk tes forensik," kata Direktur Tan Malaka Institute Sumatra Barat, Yudilfan Habib Datuak Monti. 

Menurut Yudilfan, pihak keluarga saat ini berupaya memindahkan jenazah dari Kediri ke Nagari Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Tempat kelahirannya. Sesuai dengan adat di kampung halaman yang tak pernah lagi ditinggalinya lagi sejak sekolah di Bukittinggi. 

Harry sangat teliti memperhatikan detail sumber-sumber sejarah Tan Malaka. Hingga dia bisa menemukan Tan Malaka diantara ribuan orang yang hadir dalam Rapat Raksasa di Lapangan Ikada (Monas) pada 19 September 1945. Harry juga merekonstruksi lagu yang dinyanyikan orang-orang di sekitar Tan Malaka. Harry menunjukan kedua hasil rekonstruksinya itu dalam sebuah diskusi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada 2009.

Lebih dari separuh hidup Poeze diabdikan untuk Sutan Ibrahim gelar Tan Malaka ini. Ketika Tan Malaka terbunuh pada 1949, Harry Albert Poeze, sejarawan yang lahir di Loppersum pada 20 Oktober 1947 ini, belum genap 2 tahun. Tak ada perjumpaan fisik yang pernah terjadi antara dirinya dengan Tan Malaka. 

Berbeda dengan Bob Hering yang menulis biografi Soekarno dan Husni Thamrin. Bob Hering yang masih bocah menyaksikan ramainya iringan jenazah Thamrin pada 1941. Bob Hering, juga menjadi salah satu Pasukan Payung Tentara Belanda yang menduduki Yogyakarta dan menyaksikan penangkapan Soekarno pada 19 Desember 1948. 

Tapi Tan Malaka tidak pernah dijumpai Harry. Tan dikenalnya melalui arsip-arsip, terbitan-terbitan juga kesaksian-kesaksian pelaku sejarah.  Harry mengenal Tan Malaka karena buku-buku sejarah pejuangan Indonesia sering menyebut namanya. Namun Harry ketika itu belum menemukan data lebih lengkap bagaimana riwayat Tan Malaka.

“Dalam rangka studi saya untuk mencapai gelar doktoral ilmu sosial, saya mencoba pada paruh pertama tahun 1972 untuk mencari dan menggali keterangan-keterangan yang ada tentang kehidupan Tan Malaka sampai tahun 1922. Usaha saya itu diluar dugaan mencapai hasil yang baik sekali dan menelurkan (tulisan): Tan Malaka, Seorang Revolusioner Indonesia, Riwayat Hidup dari 1896 sampai 1922.  Bagian pertama karya ini dengan sendirinya menimbulkan hasrat untuk sebanyak-banyaknya juga menjejaki apa yang terjadi selanjutnya dengan Tan Malaka,” tulis Harry Albert Poeze dalam prakata buku Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik Jilid I (1988). 

Bonnie Triyana dari majalah Historia mengunjungi rumahnya di Castricum, Belanda bagian utara. Kepada Bonnie, Harry berbagi kisah soal penelusurannya tentang Tan Malaka kepada Bonny, yang kemudian ditulis Bonnie dalam laman majalah Historia (10/09/2014). 

Harry tak hanya berkutat pada arsip-arsip kolonial di sekitar Leiden dan Amsterdam, Harry juga akhirnya ke Indonesia dan negara-negara tempat Tan Malaka pernah disinggahi selain Belanda. Seperti Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, Rusia juga Filipina. Ia bahkan ke Rusia untuk melacak arsip Comintern soal Tan Malaka di Moskow. Meski surat menyurat Tan Malaka dengan sahabatnya kerap memakai kode untuk mengecoh sensor pihak kolonial, Harry berhasil memecahkannya. 

Ketika Harry memulai risetnya tentang Tan Malaka, Indonesia sudah menjadi negara yang sangat anti komunis. Jadi, meski masih boleh memasuki Indonesia, meneliti Tan Malaka yang sudah dicap komunis pasti tidak mudah. Jangankan mendapat informasi yang benar, mencapai rumah Tan Malaka dalam kunjungan pertamanya ke Suliki juga sempat dihalang-halangi polisi setempat. 

Harry sering mendapat informasi yang menurutnya palsu dari orang-orang eks komunis soal Tan Malaka. Sebagai sejarawan, kritik sumber mutlak bagi Harry. Harry bisa melihat keterkaitan si narasumber yang berlatar pelaku sejarah dengan Tan Malaka di masa lalu. Tak sedikit orang PKI setelah 1945 yang berseberangan dengan Tan Malaka dan kerap memberikan informasi yang bias tentang Tan.

Buku soal Tan Malaka yang ditulisnya juga tak lepas dari pencekalan. Padahal Tan Malaka dinyatakan negara sebagai Pahlawan Nasional pada 1963 oleh Presiden Sukarno di masa Orde Lama. 

Menurut catatan Asvi Warman Adam dalam Menguak Misteri Sejarah (2010), Pemerintah Orde Baru pernah mencekal buku Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik Jilid I di tahun 1989.  Menurut Asvi, sebagai Pahlawan Nasional, Tan Malaka juga telah diabaikan dalam pelajaran sejarah nasional Indonesia karena dianggap pemberontak. 

Padahal, bagi Harry Poeze, merekonstruksi kehidupan dan pemikiran Tan Malaka sama saja dengan merekonstruksi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jadi sungguh ironis jika akhirnya pelajaran sejarah nasional Indonesia tak menyebut nama Tan Malaka, pribadi yang sering dijuluki sebagai Bapak Republik Indonesia ini.

Sebelum mengabdi di lembaga penelitian Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) dan terkenal karena meneliti Tan Malaka, rupanya Harry Poeze adalah anggota Partai Buruh  Partij van de Arbeid (PvdA) dan pernah menjadi  Gemeenteraad (Dewan Kota) Castricum. 

Kepada Bonnie, Harry mengaku, “Saya memang anggota Partij van de Arbeid sejak 1965. Ideologi saya sosial-demokrat, cocok dengan pendapat politik saya, sosialisme dengan demokrasi. Saya selalu menentang fanatisme dan ideologi yang absolut.”

Ternyata Tan Malaka masih terhitung sosialis juga seperti Harry Poeze, meski bisa jadi sosialisme mereka beda mazhab sedikit. Sebagai sesama sosialis, Poeze setidaknya membantu keluarga besar Tan Malaka yang akan memulangkan si anak hilang bernama Sutan Ibrahim Tan Malaka itu.

Melihat dedikasinya yang gigih mencari, mengumpulkan dan menulis segala hal tentang Tan Malaka inilah yang membuat Poeze tak ubahnya seorang "juru kunci Tan Malaka". Atau bahkan detektif Tan Malaka. (tirto.id)

Berita Terkait

00057530

Total pengunjung : 57530
Hits hari ini : 162
Total Hits : 226674
Pengunjung Online : 2

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120