03 Maret 2017 | dilihat: 901 Kali
Orde Baru Membangun Tonggak Kedekatan Indonesia dan Timur Tengah
noeh21
Raja Faisal dan mantan Presiden Soeharto (ist)

WartaOne, Jakarta - Soeharto dan Ibu Tien menyambut kedatangan Raja Faisal dari Arab Saudi di Istana Merdeka—Rabu, 10 Juni 1970. Kedua pemimpin saling jabat tangan, Presiden Soeharto membimbing tamunya ke ruangan kepresidenan untuk duduk di kursi panjang, sementara itu Ibu Tien duduk di kursi lainnya dekat sang suami.

Percakapan kedua kepala negara itu berlangsung selama sekitar 30 menit. Menteri Luar Negeri Adam Malik, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi H. Aminudin Aziz, Menteri Negara Idham chalid, dan rombongan Raja Faisal lainnya beramai-ramai mendampingi.

Keesokan harinya, Presiden Soeharto dan Raja Faisal mengadakan perundingan yang berlangsung selama satu setengah jam di tempat yang sama. Keduanya membahas masalah krisis Timur Tengah. Perundingan juga membahas masalah hubungan ekonomi kedua negara khususnya di bidang perdagangan.

Sebagai tuan rumah Presiden Soeharto dan Ibu Tien juga menyelenggarakan jamuan makan malam kenegaraan. Tak lupa acara tukar-menukar cindera mata, Soeharto memberikan sebilah keris dan seekor macan yang diawetkan, Raja Faisal memberikan sebilah pedang berlapis emas. 

Deskripsi ini dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973” seperti tertuang dalam laman soeharto.co. 

Tak ada yang istimewa dari seremoni sambutan dan kegiatan Raja Faisal  ke Indonesia pada 10-13 Juni 1970 silam. Namun, kunjungan pada waktu itu punya makna penting terutama setelah pergantian rezim dari Orde Lama ke Orde Baru. Pada masa Orde Lama, pemerintah Indonesia menganut politik mercusuar, banyak di antara negara-negara sahabat Indonesia khususnya di Timur Tengah berjarak dengan Indonesia. Kunjungan Raja Arab pada awal Orde Baru menjadi tonggak kedekatan kembali Indonesia dengan Timur Tengah. 

Pascakunjungan itu, Indonesia secara khusus membuat Undang-undang tentang perjanjian persahabatan antara Indonesia dan Arab Saudi yang tertuang dalam UU No 9 tahun 1971. Sejak 1947 Indonesia sempat mengadakan perjanjian persahabatan dengan Mesir dan Syria. Keinginan melakukan hal yang sama dengan Arab Saudi juga sudah digagas sejak lama--Indonesia memang punya kepentingan soal urusan haji dengan Arab Saudi. 

Semenjak kunjungan itu pula, Indonesia dan Arab Saudi telah menandatangani protokol penandatanganan dan naskah perjanjian persahabatan antara Republik Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi  pada 24 Nopember 1970 di Jeddah. Perjanjian Persahabatan antara Indonesia dengan Arab Saudi akhirnya disahkan oleh Raja Faisal pada 21 Februari 1971.

Berselang 7 tahun pascakunjungan Raja Faisal, Minggu, 9 Oktober 1977, Presiden dan Ibu Soeharto beserta rombongan berangkat menuju Timur Tengah dengan menggunakan pesawat DC-8 “siliwangi”. Dalam kunjungan kenegaraan selama sepuluh hari Presiden dan rombongan mengunjungi Saudi Arabia,Kuwait,Qatar,Abu Dhabi,Bahrein,Sirya, dan Mesir. Rombongan resmi presiden antara lain terdiri atas Menteri Luar Negeri a.i., Sjarif Thajeb, Menteri Negara Ekuin Widjojo Nitisastro dan Menteri/Sekerteris Negara Sudharmono.

Presiden Soeharto beserta rombongan tiba di Riyadh,ibukota Kerajaan Saudi Arabia. Di lapangan udara internasional Riyadh, Presiden Soeharto disambut oleh Raja Khalid dengan upacara kebesaran militer. Kunjungan kenegaraan di Saudi Arabia ini akan berlangsung selama tiga hari.

Pada malam harinya, Presiden Soeharto melakukan kunjungan Kehormatan kepada Raja Khalid di Istana Al Ma’Zar. Pada kesempatan itu, selain diadakan tukar menukar tanda mata, Raja Khalid  telah menganugerahkan bintang tertinggi Kerajaan Arab Saudi, yaitu Bintang Albard, kepada Presiden Soeharto. Pada kesempatan itu pula, Presiden Soeharto telah menyerahkan  Bintang Republik Indonesia Kelas Satu kepada Raja Khalid, sedangkan Pangeran Fhad bin Abdul Aziz dianugerahi bintang Mahaputera kelas Satu Kemudian Raja Khalid menyerahkan jamuan makan Kenegaraan untuk menghormati tamu agung dari Indonesia tersebut.

Semenjak kunjungan 1970, langgam hubungan antar kepala negara lebih banyak melalui utusan. Pascakunjungan Raja Faisal hingga Soeharto lengser, Arab Saudi telah mengalami beberapa pergantian raja. Raja Faisal tewas dalam tragedi pembunuhan oleh kerabat istana. Namun, hubungan kedua negara masih terjalin baik—misalnya pada 1978, Raja Khalid  sebagai penerus dari Raja Faisal mengucapkan selamat, saat Soeharto terpilihnya kembali sebagai presiden.

Berbagai kunjungan utusan raja Arab tercatat dalam hubungan kedua negara, misalnya pada 17 Juli 1990 Menteri Perindustrian dan Listrik Arab Saudi, Abdul Aziz Al Zamil, sebagai utusan khusus Raja Fahd menyampaikan duka cita kerajaan Arab terkait insiden Terowongan Mina yang di antaranya memakan korban jamaah haji Indonesia.  Dua hari setelah hari kemerdekaan pada 1990, Presiden Soeharto menerima Abdul Aziz Al Thenayun, utusan khusus pemerintah Arab Saudi.  Utusan tersebut datang untuk menyampaikan pesan pribadi Raja Fahd, terkait menghangatnya situasi di Timur Tengah setelah Irak menyerbu Kuwait dan juga mengancam akan menyerang Arab Saudi. 

Setelah kunjungan Soeharto pertama ke Arab pada 1977, pada 26 Juni 1991 usai kegiatan ibadah haji--Presiden Soeharto dan Raja Fahd bin Abdul Aziz bertemu dan mengadakan jamuan makan malam khusus di Istana Al Salam, Jeddah. (tirto/ryr)

Berita Terkait

00073925

Total pengunjung : 73925
Hits hari ini : 112
Total Hits : 272447
Pengunjung Online : 1

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120