24 Desember 2016 | dilihat: 1313 Kali
Oliefabrieken Insulinde Amsterdam, Riwayatmu Dulu
noeh21
Foto: Kebumen 2013.com

WartaOne, Kebumen - Panjer merupakan sebuah kelurahan di Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen. Kelurahan ini bisa disebut cikal bakal Kabupaten Kebumen. Seiring dengan perjalanan waktu, Panjer berubah menjadi Kabupaten Kebumen  dengan Bupati pertamanya Arungbinang IV. 

Jejak peninggalan masa ke-emasan Panjer setelah berganti nama menjadi Kabupaten Kebumen, salah satunya adalah, pada sekitar tahun 1851 bekas pendopo Panjer di Kelurahan Panjer dirubah menjadi pabrik minyak kelapa Belanda pertama dan terbesar di Nusantara dan bernama NV. Oliefabrieken Insulinde Amsterdam, kemudian berubah menjadi Mexolie, berubah lagi menjadi Nabatasia dan terakhir Sari Nabati.

Pada tahun 1875 hingga tahun 1888 pembangunan rel  Tahap I terjadi tahun (1876-1888). Awal pembangunan rel adalah 1876, berupa jaringan pertama di Hindia Belanda, antara Tanggung dan Gudang di Semarang pada tahun 1876, sepanjang 26 km. Setelah itu mulai dibangun lintas Semarang – Gudang. Pada tahun 1880 dibangun lintas Batavia (Jakarta) – Buitenzorg (Bogor) sepanjang 59 km, kemudian dilanjutkan ke Cicalengka melalui Cicurug – Sukabumi – Cibeber – Cianjur – Bandung. Pada tahun 1877 dibangun lintas Kediri – Blitar, dan digabungkan dengan lintas Surabaya – Cilacap lewat Kertosono – Madiun – Solo, dan juga lintas Jogya – Magelang.

Hasil produksi pabrik belanda tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan minyak kelapa di Eropa dan sebagian Amerika. pabrik ini sempat beriklan di koran berbahasa Belanda "HET NIEUWS VAN DEN DAG VOOR NEDERLANDSCH-INDIE" pada halaman tujuh terbitan Kebon Sirih, Sabtu 17 April 1915. Iklan tersebut mengusung slogan "Grootste Oliefabriekanten In Den Archipel" (Produsen Minyak Terbesar di Nusantara). Selanjutnya pada tahun 1923 pabrik ini di swastakan dan bergantin nama menjadi  NV. Mexolie Keboemen.

Pada jaman Jepang, NV. Mexolie digunakan sebagai markas Kempetai. Ketika memasuki era kemerdekaan (1945), penguasaan Mexolie diambil alih oleh 400 Pemuda Kebumen dibawah pimpinan eks Chudancho, Soedradjat.

Beberapa nama yang terlibat dalam pengambilalihan yang terjadi pada 24 Agustus tersebut adalah:

1. Eks Chudancho (Komandan Kompi) Sarbini

2. Eks Shudancho (komandan pleton/komandan seksi) Soediyono, Soegondo dan Dimyati.

3. Eks Budancho ( Komandan Regu) Pratedjo, Koesni, Kliwon, Soepadi, Soerodjo,Soemarsono, DS Iskandar, Soekardi, Karsadi, Karsidi, Soepyan, Soerip, Soemari, Soediro, Soepardi, Marikin, Nasikun, Soeparman dan Djoefri.

4. Eks Gyheui Badroen Asmara

5. Pemuda Satiyo

6. Brigadir Polisi, Soepada

&. Eks Soedancho Soepardiyo, Chanafi dan Soemrahadi.

Pada tanggal 5 Agustus 1947 NV. Mexolie menjadi markas Batalyon III/64 Resimen Moekahar/Resimen XX/Kedu Selatan. Markas COP PDKS (Comando Operasi Pertahanan Daerah Kedu Selatan).

Kemudian pada tanggal 19 desember 1948 terjadi bumi hangus NV Mexolie, yang dipimpin oleh Soewarno dari Barisan Pemuda Minyak, guna menghalangi laju Belanda menuju Yogyakarta.

Salah satu akibat dari Kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) maka seluruh perusahaan merk Belanda yang pada awal kemerdekaan diambil alih oleh Indonesia kembali menjadi pabrik Belanda.

Pabrik Mexolie Keboemen kembali beroperasi dibawah pengelolaan Mexolie Belanda pada 3 Juni 1951. Sebelumnya Pemerintah daerah militer (PDM) telah menempati lokasi  tersebut sejak akhir tahun 1949.

berdasarkan Undang-undang No 13 tahun 1956 yang ditetapkan pada tanggal 3 Mei 1956 maka hubungan Indonesia dan Belanda berdasarkan perjanjian Konferensi Meja Bundar batal. Salah satu akibat dari peristiwa tersebut diadakan Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia, salah satunya adalah Mexolie Kebumen. (HQ)

Berita Terkait

00031352

Total pengunjung : 31352
Hits hari ini : 77
Total Hits : 156633
Pengunjung Online : 5

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)