17 Desember 2016 | dilihat: 1184 Kali
Maluku dan Pahlawan Nasional
noeh21
Benteng Kastela, tempat dibunuhnya Sultan Khaierun (ist)

 (Bag: I)

SULTAN KHAIRUN (1538 - 1575)

WartaOne, Jakarta – Khairun diangkat menjadi Sultan Ternate menggantikan Sultan Tabarija pada tahun 1538. Pada permulaan pemerintahannya, hubungan dengan orang-orang Portugis agak baik. Tetapi kemudian timbul pertentangan-pertentangan karena ulah Portugis yang memulai dengan politik menopoli perdagangan rempah-rempah yang ditentang kerajaan Ternate.

Sejak tahun 1515 hubungan baik dengan Portugis terganggu. Gubernur Duarto dEca menuntut penyerahan hasil cengkih dari Pulau Makian. Sultan Khairun menolak. Tindakan penghinaan terjadi lagi. Sultan Khairun dan ibunya ditangkap dan dipenjarakan. Rakyat Ternate angkat senjata dan perdamaian tidak akan terjadi lagi.

Peperangan yang timbul di antara tahun 1563 1570 menghancurkan usaha-usaha perdagangan Portugis. Sultan Khairun mengirim putranya Babullah dengan suatu armada yang kuat menyerang orang-orang Portugis di Ambon. Mereka dibantu oleh rakyat Hitu dan orang-orang Jawa.

Sebaliknya armada Portugis yang dipimpin Antonio Peaz menyerang armada Ternate dan sekutunya. Peperangan di Ambon dan sekitarnya berlangsung seru bahkan beralih menjadi perang agama antara penduduk beragama Islam melawan penduduk beragama Kristen, jalan ke perdamaian dicari.

Pada tanggal 27 Pebruari 1570 diadakan perdamaian antara Ternate dan Portugis. Dengan hikmat Sultan Khairun bersumpah atas Quran dan Gubernur Lopez de Mesquita atas Kitab Misa, bahwa mereka akan memelihara perdamaian yang kekal.

Tetapi keesokan harinya Mesquita berkhianat. Ketika Khairun datang mengunjunginya di benteng, Mesquita menyuruh saudaranya Antoni Pimentel membunuhnya. Sejak tanggal 28 Pebruari 1570 sampai tahun 1575 terjadi perang antara kerajaan Ternate dan Portugis. Yang memaklumatkan perang itu adalah Babullah putera Sultan Khairun yang diangkat menjadi Sultan Ternate. Pada saat itu ia bersumpah tidak akan menghentikan perang sebelum semua orang Portugis terusir dari kerajaannya

SULTAN BABULLAH (1570 1583)

Babullah diangkat menjadi Sultan Ternate pada tahun 1570 menggantikan ayahnya Sultan Khairun yang dibunuh Portugis pada tanggal 28 Peberuari 1570. Sejak tahun 1570 sampai 1575 terjadi perang antara kerajaan Ternate dan Portugis.

Sejak kematian ayahnya, Babullah bersumpah tidak akan menghentikan perang sebelum semua orang Portugis terusir dari kerajaannya. Tindakan pertamanya ialah mengepung benteng Portugis (Sao Paulo). Kepungan itu sangat erat sehingga tidak seorangpun dapat masuk atau keluar benteng. Dengan demikian diharapkan orang-orang Portugis akan menyerah setelah persediaan makanan mereka habis. Pengepungan berlangsung selama lima tahun dan akhirnya orang-orang Portugis menyerah.

Babullah memberikan kesempatan selama 24 jam bagi orang-orang Portugis untuk meninggalkan kerajaan Ternate. Ia berjanji bahwa semua orang Portugis dengan harta miliknya boleh berangkat ke Ambon atau Malaka secara damai.

Tiga hari sesudah penyerahan benteng, tibalah sebuah kapal Portugis dan diterima dengan baik oleh Sultan. Kemudian semua orang Portugis bersama-sama orang Kristen Ternate berpindah ke Ambon.

Orang-orang Portugis yang kawin dengan wanita-wanita Ternate boleh menetap. Dikemudian hari mereka berpindah ke Tidore. Sultan Tidore mempergunakan kesempatan ini untuk bersahabat dengan Portugis yang kemudian mengizinkan mereka mendirikan benteng di Tidore.

Sultan Babullah terus berusaha mencari pembunuh ayahnya dengan mengirim utusan ke Spanyol. (Tahun 1580 Portugis dipersatukan dengan Spanyol) yang dipimpin oleh Naik. Tugas mereka menuntut agar Raja Spanyol menghukum pembunuh Khairun.

Namun ternyata bahwa si pembunuh yaitu Mesquita sudah meninggal. Sultan Babullah akhirnya wafat pada bulan Juli tahun 1583 dan diganti oleh Sultan Said (1583 1606). Perang terhadap bangsa Portugis masih terus berlanjut dan berkobar sampai di Mabon. Peperangan terus berlanjut sampai masuknya penjajah baru yaitu orang-orang Belanda yang mengalahkan Portugis tahun 1605

KAPITAN KAKIALI

Kakiali adalah putera Tepil yang bergelar Kapitan Hitu dan berketurunan dari Perdana Jamilu (Nusapati) adalah seorang dari para Perdana (pemimpin) Hitu di Jasirah Hitu Pulau Ambon.

Kakiali terkenal sebagai pahlawan dalam perang Hitu I tahun 1634 1643 melawan penjajah Belanda (VOC). Politik monopoli perdagangan dan hongi tochten pada zaman VOC sangat menyengsarakan rakyat di kerajaan Hitu (Tanah Hitu). Karena itu rakyat Hitu (Ambon) di Maluku Tengah mengadakan perlawanan yang dipimpin oleh Kakiali.

Pada tahun 1634 peperangan mulai berkobar melawan Belanda dan rakyat Hitu dibantu oleh Gimelaha Luhu dari Jasirah Hoamual di Seram Barat dan para pejuang dari Hatuhaha di Pulau Haruku dan rakyat Iha dari Pulau Saparua.

Selain itu rakyat Hitu mendapat bantuan dari Makassar dan Ternate. Setelah digempur dengan armada oleh pasukan Belanda yang dikirim dari Batavia (Jakarta), para pejuang Hitu terpaksa menyingkir dan bertahan di gunung Wawani yang dijadikan benteng pertahanan yang kuat dan dipimpin panglima Hitu Patiwani.

Pada tahun 1635 Kakiali dapat ditangkap melalui suatu tipu daya dalam perundingan dengan Belanda. Ia dibuang ke Batavia. Tahun 1637, Kakiali dipulangkan ke Hitu untuk menentramkan rakyat Hitu yang semakin bergolak.

Bersama dengan Kakiali datang pula Gubernur Jenderal van Diemen. Ia meminta bantuan Sultan Hamzah dari Ternate (politik adu domba) untuk bersama-sama melawan Hitu. Kemudian diangkatlah Gubernur Gerard Demmer.

Tokoh Belanda yang keras ini mulai mengadakan serangan besar-besaran ke benteng Wawani. Pada tahun 1643 Belanda dapat menduduki Wawani setelah perang tersebut dikosongkan pasukan Hitu dan Panglima Patiwani. Kakiali kembali menyusun siasat baru melawan Belanda dengan rencana meminta bantuan Makassar, namun dia dikhianati oleh teman-temannya sendiri.

Kakiali gugur bukan karena peluru VOC. Pada tanggal 16 Agustus 1643 seorang kenalannya yang baik yaitu Fransisco de Toire (seorang Spanyol) setelah disogok uang oleh Belanda, ia membunuh Kakiali pada saat sedang tidur. Kakiali ditikam dengan sebilah keris. Pahlawan dari Wawani ini meninggal seketika. Namun perlawanan rakyat Hitu belum berhenti. Peperangan diteruskan pada tahun 1643-1646 sebagai perang Hitu II yang dipimpin oleh Kapitan Tulukabessy dan Imam Rijali. (bersambung)

Sumber: amyaldo.blogdetik.com

Berita Terkait

00031405

Total pengunjung : 31405
Hits hari ini : 338
Total Hits : 156894
Pengunjung Online : 1

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)