05 Desember 2016 | dilihat: 1242 Kali
Monas Dalam Sejarah Aksi Unjuk Rasa
noeh21
(Ist)

WartaOne, Jakarta - Beberapa waktu terakhir kawasan Monumen Nasional (Monas) jadi pusat pemberitaan nasional. Setidaknya 3 kali demo bertajuk Aksi Bela Islam terkonsentrasi di sekitar Monas. Selain kawasan ini dianggap ikon Indonesia, Monas juga berada tak jauh dari Istana Negara, kantor utama presiden Indonesia. 

Kedatangan Presiden Joko Widodo di tengah hujan dalam demo Aksi Bela Islam pada 2 Desember 2016 kemarin untuk salat Jumat bersama dianggap sebagai kejutan.

Dalam demo-demo sebelumnya, Presiden biasanya tak menemui pendemo, terkecuali Presiden Gusdur. Kali ini, Jokowi mau turun meski sebentar. Bersama hujan, presiden menghimbau para pendemo berhati damai itu untuk pulang dengan tenang. 

Kedatangan presiden ke Monas itu mirip dengan kedatangan Sukarno dalam rapat raksasa 19 September 1945 di Lapangan IKADA, lokasi yang kini menjadi Lapangan Monas. Kala itu, massa rakyat datang bukan untuk berdemo. Dari pagi hingga sore mereka menunggu Sukarno untuk berpidato. Rupanya, awalnya Sukarno enggan datang. Kerumunan massa dalam jumlah besar di masa-masa genting sekitar 1945 tentu berbahaya. Sukarno tak mau ada pertumpahan darah. 

Menurut Aboe Bakar Loebis dalam Kilas Balik Revolusi (1992), setelah berjam-jam menunggu, bahkan dari pagi, sore itu walau hanya lima menit saja, sang presiden pun mau berpidato singkat dalam Rapat Raksasa IKADA 19 September 1945 tersebut. 

“....Sebenarnya Pemerintah Republik Indonesia telah memberikan perintah untuk membatalkan rapat ini. Tetapi karena saudara-saudara memaksa, maka saya datang kesini lengkap dengan menteri-menteri. Saya sekarang berbicara sebagai saudaramu, Bung Karno. Saya minta saudara-saudara tinggal tenang dan mengerti akan pimpinan yang diberikan oleh Pemerintah Republik Indonesia,” kata Sukarno.

Rakyat senang meski hanya lima menit. Tak lupa, Sukarno meminta rakyat agar percaya pada pemerintah.

“Kalau memang saudara percaya kepada Pemerintah Republik Indonesia yang akan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan ini, walaupun kami akan robek karenanya. Maka berikanlah kepercayaan itu kepada kami, dengan tunduk kepada perintah-perintah kami dan disipliner. Sesudah perintah kami ini, marilah kita sekarang pulang dengan tenang dan tentram...”

Pada salat Jumat raksasa itu, Jokowi juga hanya berbicara sebentar. 

“Pertama-tama, terima kasih atas doa dan zikir yang telah dipanjatkan untuk keselamatan bangsa dan negara kita. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Yang kedua, saya ingin memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya karena seluruh jemaah yang hadir tertib dalam ketertiban sehingga acaranya semuanya bisa berjalan dengan baik. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Sekali lagi terima kasih dan selamat kembali ke tempat asal masing-masing, ke tempat tinggal masing-masing. Terima kasih.”

Massa diminta pulang dengan tenang, apalagi siang itu Jakarta hujan. Bedanya, jika dulu pekikannya “Merdeka!”, kali ini “Allahu Akbar!” 

Begitulah dua peristiwa pengerahan massa pertama dan terbesar Indonesia di kawasan Monas. 

Di zaman kolonial, jauh sebelum Sukarno memberi perintah menancapkan Lingga Yoni raksasa yang merupakan simbol kesuburan Hindu, kawasan Monas ini sudah menjadi tempat penting. Di masa kolonial, kawasan ini disebut Koningsplein atau Lapangan Raja. 

Kawasan ini tak kalah penting, bahkan tak kalah besar dengan Lapangan Merah di Moskow dan Lapangan Tian An Men di Beijing. Menurut Alwi Shihab dalam Saudagar Baghdad Dari Betawi (2007), sebelum zaman Herman Willem Deandels—yang terkenal dengan megaproyeknya Jalan Raya Pos Anyer Panarukan—berkuasa di Hindia Belanda, lapangan ini dikenal sebagai Lapangan Kerbau. 

Tak jauh dari Monas, ada lapangan yang di zaman dulu kerap jadi tempat kawanan banteng berkeliaran. Tempat itu kini disebut sebagai Lapangan Banteng, yang pada zaman kolonial disebut Waterloplein. Adapun wilayah lapangan Monas dulunya disebut Koningsplein.

Ketika berkuasa, menurut Alwi, Deandels pernah menyuruh perwira Zeni turunan Perancis untuk membangun sebuah lapangan. Letnan itu bernama Gambier. Nampaknya, nama inilah yang menjadi asal-usul nama daerah Gambir. Saat ini, Gambir adalah nama distrik dan nama stasiun, yang tak jauh dari Monas. Tapi Deandels resminya menamai lapangan itu sebagai Champs de Mars. 

Sebelum jatuhnya Hindia Belanda, lapangan ini digelari sebagai Koningsplein atau lapangan kerajaan. Tapi penduduk pribumi lebih memilih menyebut Lapangan Gambir, karena banyak pohon gambir di sana. Sebagian kawasan ini juga kerap disebut sebagai lapangan IKADA karena sering menjadi tempat olahraga juga latihan dari para atlet yang tergabung dalam Ikatan Atletik Djakarta (IKADA). 

Ketika Sukarno baru kembali ke Jakarta, sehari setelah Pengembalian Kedaulatan 27 Desember 1949, di sepanjang jalan sekitar bekas lapangan raja tinggalan kolonial itu, Sukarno disambut massa rakyat. Hampir empat tahun republik mengungsikan ibukota ke Yogyakarta. Sukarno disambut pekik merdeka ketika hendak memasuki istana peninggalan kolonial di utara lapangan. 

Belakangan, istana itu disebut Istana Merdeka. Dan lapangan di depannya pun juga disebut Medan Merdeka. Namun orang-orang lebih mengenalnya sebagai: Monas. (tirto.id)

Berita Terkait

00031356

Total pengunjung : 31356
Hits hari ini : 167
Total Hits : 156723
Pengunjung Online : 1

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)