12 November 2016 | dilihat: 710 Kali
Malam keprihatinan: Tegakkan Supremasi Hukum Selamatkan Demokrasi Lawan Tirani
noeh21
Ilustrasi (ant)

WartaOne, Jakarta -  Sudah 18 tahun  gelombang Reformasi menggeliat, menentang rezim tirani orde baru. 18 tahun sudah, bangsa ini mencoba keluar dari otoriterianisme, menuju alam demokrasi yang sehat, kebebasan mengemukakan pendapat, penegakkan supremasi hukum, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme.

Namun, pada hari ini, demokrasi mulai kehilangan ruh reformasi yang selama ini menyemai dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Penegakan hukum tidak lagi menjadi sebuah supremasi. Hukum hanya menjadi alat gadai politik dan kepentingan serta penyelamatan bagi para kroni-kroni kekuasaan.

Presiden bangsa ini, sebagai pengayom masyarakat sudah tidak lagi peduli pada rakyatnya. Sulit ditemui dan sukar mendengar dengan hati, ketika dihampiri oleh jutaan rakyat bangsanya. Dengan dalih yang terlalu konyol,  semakin mempertegas jarak penguasa dengan rakyatnya.

Akan halnya penanganan demonstrasi damai pada 4 November 2016 lalu yang mengindikasikan pola-pola rezim tirani, mulai menampakan batang hidungnya. Represif  dan penuh kekerasan kemudian dilanjutkan dengan  penangkapan terhadap aktivis demokrasi yang bersuara lantang dalam  menyampaikan pendapat.

Semua itu adalah bentuk tirani yang ketakukan. Sebab hak setiap orang dalam berpendapat an menyampaikannya dijamin oleh undang – undang.
Demokrasi semakin terancam, dan rezim tirani semakin mengancam.

Berangkat dari situasi dan kondisi ini, Sekretariat Bersama Aktivis untuk Indonesia (Sekber Aktivis UI) melangsungkan kegiatan mimbar di Tugu Proklamasi, Jumat (11/11/2016)  pukul 20.15 WIB.

Malam Keprihatinan Aktivis ini dihadiri dan didukung oleh komponen dari angkatan 66 sampai 98, mahasiswa, tokoh masyarakat, aktivis buruh, aktivis sosial lingkungan, aktivis UI, ILUNI UI, KORNAS LDK, KSPI, HMI, PP PEMUDA MUHAMMADIYAH, GNPF-MUI dan komponen lainnya yang mendukung agenda 4 November lalu.

Sedangkan tokoh dan aktivis yang hadir  oleh :

1. Ima Soerjo Koesoemo (Ketua ILUNI UI).
2. Salim Hutajulu (Aktifis Malari 1974).
3. Ari Wibowo (Ketua Sekber UI).
4. Sri Bintang Pamungkas.
5. Mulyadi Tamsir (Ketua Umum PB HMI).
6. Said Ikbal (Presiden KSPI).
7. M Rusdi ( sekjen KSPI )
8. Indra J Piliang (Suara Mahasiswa UI 97/98).
9. Fahri Hamzah (Anggota DPR RI).
10. Rama Pratama (SM UI 98)
11. Jumhur Hidayat 
12. Ferry Juliantono (Aktivis)
13. Komeng (Aktivis 98)
14. Dahnil  Ashar Simanjuntak

Acara dimulai dengan menyanyikan Lagu Indonesia raya dan dilanjutkan dengan menyampaikan pernyataan sikap yang berbunyi;                                                                                                                                                                                                                          Kami serukan kepada segenap elemen bangsa, untuk bersatu dan merapatkan barisan, demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesi  untuk bersama-sama:

1. Mengawal dan memastikan penegakan supremasi hukum yang adil dan transparan tanpa pandang bulu. Termasuk dalam penangan kasus hukum yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama, yang dinilai lamban
2. Menyelamatkan demokrasi dari otoriterianisme ketidakadilan yang merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.
3. Melawan semua bentuk tirani kediktatoran, kekerasan dan pembungkaman kebebasan menyatakan pendapat yang dijamin oleh undang-undang.
                                                                                                                                                                                                                             

Seiring dengan waktu yang kian beranjak malam, kegiatan dilanjutkan dengan  orasi dari para aktivis diantaranya, Ima Soerjo Koesoemo (Ketua ILUNI UI) mengatakan, meski telah 70 tahun kita merdeka tapi ternyata para pemimpin para elit belum mampu mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang membuat rasa aman dan nyaman kepada segenap masyarakat Indonesia. Saat ini negara hanya tajam kebawah tapi tumpul ke atas.

“Kita harus memiliki konsep! dan UI menciptakan intelektual bukan tukang, namun sekarang apa yang terjadi kita sudah di kotak-kotakkan sehingga kita seperti dipecah belah. Meskipun begitu, kapanpun kita harus melakukan gerakan moral kita pasti akan turun dan bergerak, kita akan mengemban amanah pergerakan rakyat!”

Salim Hutajulu, aktivis Malari (1974) menyampaikan orasinya dengan mengatakan,”Kami dulu ditangkap oleh rezim Soeharto karena dituduh membakar kota Jakarta, saya selalu menyebut saya aktivis mahasiswa, sebagai aktivis mahasiswa harus berpihak kepada rakyat! Demokrasi bebas memilih, namun setelah terpilih ternyata tidak pro rakyat libas! Saya juga mau mengetuk aktivis di lingkaran kekuasaan kembalilah jalan yang benar!”

Salim Hutajulu juga merasa prihatin dan menegaskan, bahwa peristiwa 4 November kemaren adalah masalah penistaan agama oleh Ahok dan itu dilakukan di seluruh Indonesia. “Aksi damai yang ikhlas tersebut digembar-gemborkan sebagai aksi bayaran,” ucapnya.

Orasi dilanjutkan oleh  Ari Wibowo (Ketua Sekber UI) yang mengatakan, bahwa pada malam hari ini kita memperingati hari pahlawan untuk mengungkapkan keprihatinan kita untuk bangsa ini, malam ini mengindikasikan kebersamaan yang baik,

”Semangat perjuangan teman - teman, saya yakin kehadiran teman - teman kesini karena kita ditunggangi oleh Nurani. Bagaimana mungkin 18 tahun yang lalu saat reformasi kita sama - sama berdarah dan berkeringat, namun apa yang terjadi hari ini supremasi hukum hampir sekarat karena tajam kebawah tumpul keatas, ini adalah ciri mundurnya demokrasi,” katanya.

Ari melanjutkan, proses demokrasi kita sekarang ini mundur. Ia mencontohkan kasus 4 November yang harusnya tidak terjadi kalau saja hukum ditegakkan.

“Kita sangat prihatin otoriterisme kediktatoran hidup kembali. Pendekatan kekerasan ditampilkan lagi di Negara kita, aksi damai di nodai dengan kekerasan aparat,” katanya.

Selain itu hadir juga Sri Bintang Pamungkas. Menurutnya, Ini adalah momen yang sangat luar biasa yang ia tunggu sejak 2002.

“Dulu bisa menjatuhkan Bung Karno, Soeharto, dan kita pasti bisa juga menjatuhkan Ahok! Sebab yang dilakukan Ahok jelas penistaan dan sebetulnya ini delik formil sudah lengkap untuk jadikan dia sebagai tersangka,” tegasnya.

Lebih jauh menurutnya, Jokowi, Kapolri, kejaksaan, KPK harusnya menegakkan hukum, bukan malah mengacak - acak demokrasi,”Jadi Jokowi harus dijatuhkan karena Jokowi adalah sebuah Tirani. Harusnya dua tahun yang lalu kita sudah memprotes Jokowi, sudah kelamaan Jokowi ini menjadi pemimpin,” lanjutnya.

“Waktunya cuma sebentar, hanya 2 minggu lagi, jangan takut kita buka gerbang DPR - MPR RI kita duduki seperti zaman menurunkan Soekarno dan Soeharto,” pungkasnya.

Mulyadi Tamsir (Ketua Umum PB HMI) dalam orasinya mengatakan, pihaknya kemarin ini bersama Ulama, Habaib dan lain lain menyuarakan tentang penegakan hukum bela islam. Ini adalah pergerakan yang sangat luar biasa karena didukung massa yang berjuta – juta.

“Dibilang ada penggerak politik dibelakangnya, mana ada yang bisa menggerakkan kecuali dari hati nurani! Kita turun bukan hanya sekedar membahas agama dan lainnya, tapi kita menjaga kemanajemukan Indonesia, “ katanya.

Dia juga mengatakan, Ahok yang telah menistakan alquran hari ini dilindungi kekuasaan sehingga susah digulingkan atau di tersangkakan, transparansi hukum tidak menjamin.keadilan karena semua sudah di skenariokan.

“Saya mengundang para aktivis, generasi muda kita harus menjadi yang terdepan, saya rindu kibarkan bendera - bendera mahasiswa di jalanan untuk kebenaran. Tanggal 25 nanti kita akan kembali gabung dengan Habaib, Ulama,” ujarnya.

Sementara itu, Indra J Piliang (Suara Mahasiswa UI 97/98)  menyampaikan orasinya dengan  dengan mengatakan, bahwa kita berkumpul karena hati nurani tergerak karena melihat hal yang melenceng yang dulu kita perjuangkan di tahun 1998, kita harus menegakkan dengan jalan pri kemanusiaan, keadilan bukan jalan Tirani, kediktatoran yang sekarang mencoba membungkam mulut - mulut kita.

“Bangsa ini hampir terbelah, dengan waktu yang sangat singkat kita lihat bangsa kita jadi tua yang jalannya sudah melenceng, banyak mahasiswa yang ditangkap, kenapa bukan para kpruptor atau penjudi besar yang ditangkap,” katanya.

“Kami aktivis 98 akan bergerak kalo rezim ini semakin melenceng, kita akan bela masyarakat dan Bangsa Indonesia,” tutupnya.

Sedangkan Fahri Hamzah (Anggota DPR RI) menyatakan, tahun 98 kita para aktivis menganggap pemerintahan bukan yang paling penting tapi rakyat yang paling penting, mimbar kita tidak boleh padam, hati nurani, dan setiap perasaan yang tidak nyaman harus kita ungkapkan.

“Saya merasa saya harus tetap di parlemen jalanan karena kadang - kadang kita tergantung pada kapasitas kepemimpinan. Alangkah celakanya kita kalo kita punya pemimpin yang tidak mempunyai kapasitas yang memadai. saya menganggap kita tidak boleh menyesal dengan demokrasi peristiwa 98 adalah periatiwa yang tidak boleh kita sesalkan,” teriaknya.

“Seorang pemimpin yang tidak mengerti apa - apa bagi saya seperti teori Kodok diatas Balok, inilah yang kita hadapi saat ini dimana pemimpin kita yang tidak relefan dengan penampilannya yang dia anggap dia lah yang mengendalikan keadaan,” terangnya.

Fahri melanjutkan, politik itu harusnya di bibiayai oleh Negara, bukan orang kaya. Inilah akhirnya, orang kaya yang berkuasa. Seperti Ahok yang seperti tidak tersentuh dan Jokowi membiarkan penggusuran yang kejam didepan mata dia di depan kantor pemerintahan.

“Hadirnya kita pada malam ini, kita buat perubahan dan perubahan ini kita tulis dengan pena kita sendiri dan tidak akan pena itu kita serahkan orang lain. Dengan ini kita harus bersatu dan mempersiapkan diri untuk keberhasilan bangsa ini untuk kemakmuran rakyat Indonesia. (Dum/ep)

Berita Terkait

00031405

Total pengunjung : 31405
Hits hari ini : 330
Total Hits : 156886
Pengunjung Online : 2

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)