08 Februari 2017 | dilihat: 564 Kali
Terlalu Baik Bisa Membuat Anda Kena Masalah
noeh21

WartaOne , Jakarta – Pada dasarnya ada perbedaan besar antara bersikap baik dengan terlalu baik, pun motivasi di baliknya. Tulus berbuat baik, tidak mampu menolak, atau ingin disukai. Yang jelas, pasti ada saatnya bersikap terlalu baik justru mendatangkan masalah yaitu :

Baik dan terlalu baik

Bersikap baik tidaklah buruk. Dalam istilah psikologi artinya, Anda orang yang berempati dan sangat membutuhkan keselarasan sosial. Namun masalahnya, empati dan memahami orang lain ini sering kali berbarengan dengan keinginan untuk dipahami. Dengan kata lain, Anda baik pada orang lain karena ingin diperlakukan begitu juga, atau ingin orang lain tahu bahwa Anda orang yang baik.

Untuk alasan itu, bersikap baik bisa jadi terlalu baik, dan ini sebetulnya buruk. Misal, bersedia mengerjakan tugas padahal Anda tidak ada waktu, atau memilih diam saat teman melakukan hal yang mengesalkan. Termasuk berpikir bahwa dengan melakukan hal yang menyenangkan untuk orang lain, membuat Anda menjadi orang yang lebih baik.

Ketika terlalu baik justru jadi bumerang

Terlalu baik bisa membawa sejumlah hal negatif, terutama yang muncul dari orang lain sehingga menyulitkan Anda. Power of Positivity menyebut demikian. Anda bukan hanya mengembangkan harapan yang tidak realistis dari orang lain, tapi membuat orang lain jadi kurang menghargai Anda.

Dampaknya, orang lain hanya akan muncul saat mereka butuh sesuatu, karena Anda dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan. Belum lagi ketika sibuk mengurusi orang lain, Anda lupa bersikap baik pada diri sendiri. Jika kebutuhan dasar tak terpenuhi, stres, cemas, dan depresi bisa muncul.

Inc juga menulis terlalu baik akan membuat Anda dipandang sebagai orang yang lemah. Bahayanya jika bertemu dengan si manipulatif, mereka akan melihat kesempatan untuk mengambil keuntungan.

Lebih ironis, bersikap terlalu baik juga membuat orang tidak mempercayai Anda. Sebab sangat sedikit orang yang benar-benar baik, dan ketika Anda berlaku terlalu baik, orang justru bertanya-tanya apakah Anda memiliki motif tersembunyi.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology mendukung hal tersebut. Untuk penelitian, periset meminta subjek memainkan permainan kelompok. Mereka meneliti bagaimana pemain lain bereaksi terhadap pemain yang egois dan terlalu baik. Ternyata, orang yang terlalu baik cenderung tidak disukai sama halnya dengan yang egois. Bahkan pemain lain ingin yang terlalu baik dikeluarkan dari permainan.

Mengapa demikian? Periset mengungkap dua alasan. Pertama, orang yang terlalu baik justru membuat orang lain merasa buruk tentang dirinya sendiri. Kedua, orang lain menganggap yang terlalu baik sangat berlebihan.

Cara berhenti bersikap terlalu baik

Menjadi diri sendiri adalah kunci untuk berhenti bersikap terlalu baik. Misalnya dengan bersikap tidak masalah jika orang lain tidak menyukai Anda, dan tidak masalah jika terjadi perselisihan.

Memang, lebih mudah diucap ketimbang dilakukan. Namun, Kristin Wong, seorang penulis di Lifehacker punya cara yang membantunya keluar dari permasalahan bersikap terlalu baik. Yaitu dengan menetapkan beberapa aturan berikut, yang bisa jadi berlaku bagi Anda juga:

Jadikan tiap interaksi sebagai tantangan

Menghilangkan kebiasaan terlalu baik pasti tidak mudah. Karena itu Wong menyarankan berlatih. Yaitu dengan menjadikan tiap interaksi dengan orang asing sebagai kesempatan menghentikan kebiasaan tersebut. Walau sepele, interaksi memunculkan rasa percaya diri sehingga membuat Anda lebih nyaman menyuarakan pendapat.

Perhatikan Bahasa

Menurut Wong, bagi orang yang terlalu baik kata-kata sangatlah penting, dan penggunaannya kadang jadi berlebihan. Untuk mengatasinya, alih-alih banyak bilang maaf, coba ubah dengan mengatakan terima kasih.

Dan ketika orang mengucapkan "Terima kasih." daripada menjawab "Tentu!Tidak masalah! Bilang saja kalau butuh yang lain lagi." Lebih bijaksana hanya dengan berkata, "Sama-sama."

Ingat, sebetulnya tidak ada orang yang terlalu peduli dengan yang Anda lakukan--kecuali memang berguna bagi mereka. Sebab orang lain juga mencemaskan banyak hal.

Pada akhirnya, lakukan perubahan mulai dari yang kecil. Tujuannya untuk menyeimbangkan kebaikan dan kesopanan tanpa mengorbankan perasaan sendiri. Seperti ditulis Michael Fertik, pengusaha dan pendiri laman Reputation.com dalam Harvard Business Review, bersikap baik hanyalah berguna ketika diiringi dengan perspektif rasional dan kemampuan untuk membuat pilihan sulit. (beritagar/dd)

Berita Terkait

00031313

Total pengunjung : 31313
Hits hari ini : 238
Total Hits : 156544
Pengunjung Online : 1

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)