10 Desember 2018 | dilihat: 1451 Kali
Syamsuddin Lubis (Direktur AMIK Intel Com GLOBAL INDO Kisaran) “L2DIKTI Wilayah I Sumut Mau Tutup Kampus Kami”
noeh21
Direktur AMIK Intel Com GLOBAL INDO Kisaran, Dr.Syamsuddin Lubis ST, SE, MM, mengajukan sejumlah protes kepada Prof.Dian Armanto. Koordinator Kopertis I wilayah Sumut yang sekarang namanya berubah menjadi  L2DIKT   Wil. 1 Sumatera Utara ini dianggapnya punya niat jahat, yaitu ingin menutup kelangsungan kampus miliknya.

Wartaone.net – Sejumlah informasi dan keterangan disampaikan Syamsuddin Lubis terkait beragam upaya dan tindakan yang dilakukan oleh Prof.Dian Armanto selaku L2DIKTI wilayah Sumut kepada kampus yang dikelolanya AMIK Intel Com GLOBAL INDO Kisaran, Sumatera Utara.

Pertama, gara-gara kekurangan tenaga pengajar di salah satu Program Studi (Prodi) dan dituding menyelenggarakan kelas jauh, Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDDIKTI) kampus AMIK Intel Com GLOBAL INDO Kisaran, ditutup di laman forlap.ristekdikti.go.id, pada tahun 2014 lalu. 

“ Permasalahan itu sudah diselesaikan. Nah pada bulan 12 tahun 2017 kami mendapat surat lagi katanya ada menyelenggarakan kelas jauh di berbagai kabupaten kota. Padahal tuduhan itu tidak ada lagi kami menyelenggarakannya. Kebetulan di berbagai kabupaten kota itu ada kursus kami yang namanya sama LKP intelcom Global Indo.” ujar Syamsuddin Lubis melalui pesan Whatsapp kepada media Wartaone.net, Senin (10/12/2018). 

Syamsuddin mensinyalir, mungkin karena banyak desakan surat kaleng ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), sehingga mereka (Dian Armanto dan oknum lainnya – red) kurang percaya dan akhirnya turun ke lapangan. 

Dia lalu kembali menceritakan, saat dirinya menggantikan direktur lama pada bulan April 2018 yang lalu, pihak Kopertis I wilayah Sumut kembali mengirimkan surat.

“ Akhirnya kami di sidang di L2DIKTI Sumut. Nah hasil persidangan itu apa apa yang mereka minta sudah saya penuhi dengan membuat Pakta integritas, iklan koran selama 3 hari diharian waspada dan surat permohonan jika dosennya kurang satu atau dua orang saya minta waktu dan ditandatangani pakai materai karena dalam waktu mempersiapkan apa-apa yang mereka minta ada dosen keluar 3 orang termasuk direktur yang lama.” jelas Syamsuddin.
 
Namun menurut Syamsuddin, Dian Armanto enggan mengirimkan rekomendasinya kalau dosennya belum lengkap. Karena hal itulah, Syamsuddin mengaku harus mencari kembali sejumlah dosen, seperti yang diminta oleh Dian Armanto.

Selain itu, Syamsuddin juga menjelaskan perihal bagaimana dirinya harus menerima penolakan ketika hendak mengajukan surat wisuda yang ia ajukan pada Agustus 2018. 

“ Surat yang ajukan itu kemudian dibalas namun mereka menolak, kemudian diajukan lagi surat permohonan wisuda  untuk tanggal  20 Oktober  2018  dan mereka belum jawab dengan alasan kami harus melengkapi dosen yang masih kurang tersebut. Saya katakan ke dia mencari dosen tidak bisa bin salabin perlu waktu sehingga baru terpenuhi di bulan November 2018. " tambah Syamsuddin.

Syamsuddin yang kala itu mengganggap permasalahannya selesai dengan pihak Koordinator L2DIKTI wilayah Sumut, namun Dian Armanto lagi-lagi mempermasalahkan status kampus yang dikelolanya. 

“ Ketika saya melengkapi berkas dosen tersebut,  dipermasalahkan lagi. Karena akreditasi kami baru mati di tanggal 26 Oktober 2018. Ini yang kami protes sampai sekarang. Surat surat bukti bahwasanya kita ada progress apa-apa yang mereka minta secara administrasi sudah kita ikuti.” ungkap Syamsuddin tegas.

Lantaran kesal dengan sikap dan tindakan Prof.Dian Armanto yang berusaha ingin menutup AMIK Intel Com GLOBAL INDO Kisaran yang dikelolanya, Syamsuddin lalu membeberkan fakta-fakta penyimpangan dan tindakan sewenang-wenang Dian Armanto kepada media Wartaone.net di Jakarta. 

“ Mohon bantuan karena koordinator L2DIKTI Wilayah 1 nampaknya tidak Netral pada kami. Karena mereka berpihak ke salah satu perguruan tinggi agar kami ditutup. Kalau saya menilai banyak kejadian perguruan tinggi yang bermasalah di Sumatera Utara yang lebih besar nampaknya aman karena menggunakan uang yang banyak karena kampus kita kampusnya wong cilik dan nggak bisa kasih uang banyak maka inilah imbasnya. Setelah saya amati beberapa tahun ini pembangunan PTS tidak lebih maju di Indonesia khususnya Sumatera Utara yang akan datang karena kampus-kampus lama yang dalam pembinaan ada istilah mau ditutup bukan dibina tapi dibinasakan kemudian mereka menawarkan untuk membuka kampus kampus yang baru sehingga tidak ada yang namanya karena di dalam pembinaan itu tidak ada diberikan bantuan apa-apa PTS itu harus berdiri sendiri dan mencari dana sendiri Bagaimana dengan PTN banyak kalau kita periksa dosen-dosen yang kurang dipenuhi mereka namun tidak dipersoalkan seperti di PTS, kalau kita bicara undang-undang dan peraturan di negeri ini kita harus mendapatkan hak yang sama kita sebagai warga negara Indonesia sama-sama berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa” tutup Syamsuddin penuh harap.

Seperti diketahui, kampus AMIK Intel Com GLOBAL INDO Kisaran, termasuk kampus yang cukup berprestasi. Salah satunya ditandai dengan adanya hubungan kerjasama dengan negara Malaysia, Korea dan Jepang. Kampus AMIK Intel Com GLOBAL INDO Kisaran juga memiliki ranking 15 kinerja perguruan tinggi urutan di bidang akademik dan ranking 400-an dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Namun gara-gara Dian Armanto yang kerap membesar-besarkan masalah, nama kampus AMIK Intel Com GLOBAL INDO Kisaran surut, bahkan boleh jadi akan ditutup oleh Dian Armanto yang selama ini selalu mempermasalahkan kampus yang terletak di JL. Jend.Ahmad Yani, Kompleks Graha Indah, Sei Renggas, Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara ini. (Red)
Berita Terkait

00073772

Total pengunjung : 73772
Hits hari ini : 181
Total Hits : 272093
Pengunjung Online : 1

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120