15 Maret 2017 | dilihat: 814 Kali
Pendidikan Adalah Kunci Kemajuan Peradaban Dunia  
noeh21
ilustrasi

WartaOne, Jakarta –  Sementara negara-negara maju mulai mengembangkan teknologi untuk bisa membuat hidup lebih baik, tapi di beberapa negara masih berusaha untuk memenuhi pendidikan dasarnya. Padahal, salah satu kunci kemajuan peradaban dunia adalah pendidikan berkualitas.

Ketika negara Amerika sudah berusaha mengembangkan teknologinya untuk bisa melakukan penjelajahan di luar angkasa, pada negara seperti Afrika dan sebagian Asia masih berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan dasar warganya untuk mampu membaca dan menulis.

Pada negara-negara maju tertentu, pendidikan adalah hak dasar yang bisa dimiliki dengan subsidi dari pemerintah, meski tak demikian yang terjadi di Amerika Serikat.

Bagi sebagian masyarakat di negara berkembang, mengenyam pendidikan tinggi adalah privilese yang hanya dimiliki oleh orang kaya, hingga tidak semua orang bisa menikmati pendidikan hingga ke perguruan tinggi.

Berdasarkan laporan OECD, untuk lulusan doktoral terbanyak, Amerika Serikat mengalahkan negara-negara maju lainnya. Amerika memiliki Ph.D dua kali lebih banyak daripada Jerman. Pada 2014, di Amerika Serikat terdapat 67.449 orang yang lulus dengan gelar Ph.D. angka ini mengalahkan 28.147 orang lulusan yang sama di Jerman. Menariknya, India memiliki 24.300 doktor bergelar Ph.D yang lulus pada tahun yang sama. Sementara Inggris memiliki 25.020 lulusan Ph.D

OECD juga menyebutkan, jumlah lulusan doktoral di dunia semakin meningkat selama dua dekade terakhir yang berasal dari negara-negara berkembang yang peduli dengan investasi pendidikan masyarakatnya. Seperti India. Dengan 24.300 doktor baru pada 2014. Sedangkan negara di Afrika yang getol mendorong warganya untuk mendapatkan pendidikan tinggi adalah Afrika Selatan. Pada 2014, terdapat 2.060 lulusan doktornya.  

Tren yang muncul kemudian adalah bidang lulusan yang menjadi fokus studi sarjadna PhD. 40 persen doktor baru di negara-negara anggota OECD berasal dari bidang sains, teknologi, teknik dan matematika. Negara yang paling banyak menghasilkan lulusan dari jurusan ilmu alam dan teknik adalah Prancis, (59 persen), Kanada (55 persen), dan Cina (55 persen). Cina melalui kebijakan ekonomi yang agresif mengembangkan teknologi untuk kepentingan industri, tentu membutuhkan lebih banyak doktor untuk mewujudkan itu semua.

Bagaimana dengan Indonesia?

Pada 2012 lalu, penyandang gelar doktor di Indonesia baru mencapai 25.000 orang. Baru dua tahu kemudian angka itu meningkat mencapai 75.000 orang. Angka ini jauh tertinggal dari Cina yang memiliki 500.000an doktor.

Dalam rangka meningkatkan jumlah doktor di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Keuangan membentuk Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) alokasi dana abadi yang saat ini nilainya mencapai Rp.20,6 triliun untuk kepentingan beasiswa bagi mahasiswa yang memiliki prestasi akademisi tinggi.

LPDP adalah lembaga yang berdiri pada 2012, dikelola oleh Kementerian Keuangan, Kemernterian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi serta Kementerian Agama. Dana abadi yang saat ini berjumlah Rp20,6 triliun tersebut dikelola oleh Badan Layanan Umum (BLU) LPDP.      

Pentingnya beasiswa untuk pendidikan doctoral.

Di Indonesia, dari setiap satu juta penduduk hanya terdapat 143 doktor. Angka perbandingan tersebut sangat jauh dibandingkan dengan negara tetangga di Asia. Seperti Malaysia, rasionya adalah terdapat 509 doktor dari setiap satu juta jiwa penduduknya. Bahkan di India, terdapat 1.410 doktor dalam setiap satu juta penduduknya. Sedangkan di Jepang, terdapat 6.438 doktor pada satu juta penduduknya. Sementara itu, di Amerika terdapat 9.850 doktor untuk setiap satu juta penduduknya.

Berangkat dari kondisi ini, setiap tahunnya Indonesia mengalami perkembangan doktor setiap tahunnya hanya 15 peren. Untuk mencapai angka kelipatan 100.000 hanya akan dicapai pada tahun 2022. Sedangkan penambahan 150.000 doktor akan tercapai pada 2026.

Hingga Januari 2016, LPDP telah memiliki alumni sebanyak 538 orang, 104 orang di antaranya telah menyelesaikan studi pada 2014 dan sebanyak 434 orang pada 2015. Alumni tersebut tersebar dari berbagai universitas di dalam dan di luar negeri. Di Indonesia sendiri, masalah pendidikan merentang dari kualitas sarana dan prasarana pendidikan seperti sebaran guru, fasilitas pendidikan, akses menuju sekolah, kurangnya dosen sampai masih kurangnya guru besar.

Menristek-dikti Mohammad Nasir beberapa waktu lalu mengatakan, jika dilihat data jumlah perguruuan tinggi di Indonesiaa jumlah dosen dengan tingkat pendidikan doktor masih sangat sedikit. Di Indonesia terdapat 134 PTN dan 4.225 PTS dengan jumlah dosen sebanyak 230.663 orang. Dari jumlah dosen tersebut, dengan jenjang S1 sebanyak 53.031 orang atau sekitar 22,99 persen. Untuk tingkat S2 sebanyak 134.522 atau 58,33 persen, sedangkan S3 terdapat 26.199 orang atau sekitar 11,36 persen/  

Februari lalu, Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP),  Eko Prasetyo, menyatakan bahwa sebanyak 30 persen kuota beasiswa setiap tahunnya diperuntukkan bagi warga di daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T). Seleksi bagi masyarakat yang berada dari daerah 3T akan berbeda dengan masyarakat dari daerah lainnya. Contohnya dalam kemampuan bahasa Inggris yang mensyaratkan TOEFL 550 atau IELTS 6,5 untuk beasiswa luar negeri, untuk masyarakat dari daerah 3T nilai TOEFL atau IELTS bisa di bawahnya.

Dikatakannya, jumlah beasiswa yang diberikan LPDP setiap tahun mengalami peningkatan. Pada 2013, ada 1.500 beasiswa, 2014 sebanyak 2.800 beasiswa, 2015 sebanyak 4.600 beasiswa, dan 2016 sebanyak 7.300 beasiswa. 

"Setiap tahun mengalami peningkatan. Hingga saat ini, sudah 16.295 beasiswa yang diberikan," katanya. Perbandingan beasiswa dalam negeri dan luar negeri yakni 60 persen dan 40 persen. Sedangkan untuk program studi prioritas yakni sains, teknik, teknologi, dan matematika. (tirto/ep)

Berita Terkait

00031405

Total pengunjung : 31405
Hits hari ini : 356
Total Hits : 156912
Pengunjung Online : 1

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)