14 Februari 2017 | dilihat: 1420 Kali
Tidore “Negeri Seribu Kearifan” Untuk Indonesia
noeh21
Bambu Gila (ist)

WartaOne, Jakarta - Acara launching lomba menulis blog tentang Tidore, sejarah, budaya dan kepariwisataannya yang dilaksanakan oleh Ngofa Tidore Travel Team bertempat di Fola Barakati Food & Art, Cibubur, Minggu, 12 Februari 2017. Dihadiri oleh 70an blogger serta media cetak dan televisi nasional.

Lomba menulis ini pun memilih tema “Tidore Untuk Indonesia”. Tema ini juga menafasi beberapa kegiatan yang dihelat oleh Ngofa Tidore Travel Team, sebagai dedikasi untuk Tidore, khususnya dalam peringatan Hari Jadi Tidore ke 909 tahun ini.

Kata yang mulia Sultan Tidore, H. Husain Syah “Tidore, negeri seribu kearifan”, mengawali sambutannya. Lebih jauh Sultan Husain Syah mengatakan, kearifan dan pengalaman panjang Tidore yang sukses mengelola kesultanan, sebagai sebuah negara berdaulat pada masa lalu, di tengah percaturan global yang dinamis dan kompleks juga tekanan kolonial Eropa, dan Tidore mampu menjaga martabat dan eksistensinya, sejatinya dapat dijadikan inspirasi bangsa Indonesia memecahkan permasalahan yang dihadapi.

Ada cita dan obsesi besar sang Sultan, mendorong generasi Tidore dan generasi Moloku Kie Raha (Maluku Utara) meneguhkan eksistensinya, ikhtiar memperkuat eksisten bangsa. “Kita harus lebih eksis. Tampil percaya diri dan berperan dalam kancah nasional bahkan internasional”, imbau sultan.

Baginya, jika potensi SDM daerah dapat berkiprah seperti yang dihatapkannya maka bangsa Indonesia mampu tampil sebagai bangsa besar dan diperhitungkan dalam pergaulan antarbangsa dan percaturan global. Selain Sultan, sambutan juga disampaikan oleh Walikota Tidore Kepulauan, Capt. Ali Ibrahim. Sementara Jojau atau Perdana Menteri Kesultanan Tidore, Amin Farouq, yang juga seorang sejarawan, Sofyan Daud, Sastrawan dan Budayawan Maluku Utara, tampil sebagai narasumber. Para narasumber menjelaskan sejarah, tradisi dan budaya serta kepariwisataan Tidore.

Dalam acara tersebut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kota Tidore Kepulauan, M. Thamrin Fabanyo dan Kepala Dinas Pariwisata dan Industri Kreatif Koata Tidore Kepulauan, Yakub Husain beserta sejumlah stafnya serta tokoh sesepuh Mama Lala Fabanyo beserta keluarganya, Irjen Polisi Hidayat Fabanyo dan istri, Ny. Yayuk Ibrahim A. Karim dan ponakannnya, Eky Toekan, putra Bapak I.E. Toekan, Bupati Halmahera Tengah era 1980an bersama istri dan saudaranya, Ny. Ratna Monoarfa, dan puluhan tokoh lainnya. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi Tidore yang studi di Jakarta juga hadir.

Plang hitam bertulisan putih “Fola Barakati Food & Art”, cukup menginformasikan, bangunan ini sehari-harinya adalah restoran yang menyatu dengan galeri seni. Terpajang di galeri mini ini koleksi aneka kerajinan khas Tidore, keramik dan handicraft hasil industri kreatif lainnya. Umumnya bernuansa etnik.

Menariknya, meski penyelenggaranya Ngofa Tidore, yang artinya Anak Tidore, seamatan saya, pegiatnya tak hanya anak-anak dari Tidore. Nama-nama seperti Annie Nugraha, Katerina S dan beberapa lainnya yang aktif di dalam kegiatan ini tentu saja bukan “ngofa Tidore” tetapi mereka sangat me-“ngofa Tidore. Begitu total dan dedikatifnya. Ini menjadi cara penyadaran tersendiri kepada “ngofa tidore” asli terutama mereka yang kurang me-“ngofaTidore”.

Di berandanya makanan saro (makanan perjamuan adat) tertata rapi. Terhidang pula Kofi Dabe (kopi rempah khas Tidore) dan aneka kuliner khas Tidore. Sejumlah keluarga asal Tidore dan Ternate atau dari luar Tidore yang pernah bertugas lama di Tidore hadir dan terlihat bersukacita. Suasana hangat penuh silaturahim.

Di sisi kanan rumah ada panggung kecil sekitar 2,5 x 2 meter. Dekorasinya ringkas dan sederhana. Kain bernuansa etnik sebagai latar. Di sekelilingnya diletakkan beberapa kerajinan dan perkakas khas Tidore. Ada rak pajangan dari bambu tutul, tifa tui, lesa, pala dan fuli, cengkeh, kayu manis dan sebagainya.

Dari panggung kecil ini musik akustik yang dimainkan Ngofa Tidore, mengantarkan lagu-lagu manis berbahasa Tidore atau lagu-lagu berlanggam melayu khas Maluku Utara dan Maluku. Lagu-lagu itu menghangatkan suasana silaturrahim penuh persaudaraan.

Serunya lagi, selepas acara diadakan pertunjukan “Baramasuwen” atau Bambu Gila. Sebagian besar blogger bahkan tamu undangan asal Tidore surprise dan bersyukur, menyaksikan langsung pertunjukan ini mulai dari persiapan hingga akhir prosesi bahkan ikut bermain.

“Ih, bambunya seperti punya tenaga sendiri ya?” Kata Abdillah M. Marzuqi, wartawan Media Indonesia selepas ikut bermain Bambugila. Abdillah mengaku sangat senang, itu pertama kalinya dia menyakaikan langsung bahkan ikut bermain Bambugila. (Kdr.co/Mhyr)                        

Berita Terkait

00031358

Total pengunjung : 31358
Hits hari ini : 192
Total Hits : 156748
Pengunjung Online : 2

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)