13 Maret 2017 | dilihat: 867 Kali
Menjinakkan Perubahan
noeh21
Ilustrasi (ist)

Oleh: Andi Sumar Karman

WartaOne, Ternate - Gelombang reaksi protes yang beradu dengan dukungan ihwal pilkada DKI Jakarta yang menyandingkan Agus-Ahok-Anis kita saksikan bagai parade di media massa: cetak, tv, daring, sosial. Tak kepalang ada yang sampai saling hujat demi membela petarungnya.

Ironisnya, para petarung di media itu sama sekali tak ada kaitan kewargaannya dengan Jakarta. Dari berbagai penjuru negeri, dari luar Jakarta, menghebohi wacana pilkada itu. Tidak hanya itu, suara-suara itu juga datang dari berbagai latar belakang kalangan. Mulai dari awam, ilmuwan, akademisi, hingga agamawan. Atau aktor dengan percampuran dari berbagai unsur itu sekaligus.

Fenomena ini mengukuhkan betapa media sebagai suatu kekuatan nyata dalam dunia modern. Benarlah Bourdieu (1984) dan Ritzer (2007) bahwa perbedaan dan kebebasan ditegaskan dari keragaman informasi yang memungkinkan dibangunnya perbedaan-perbedaan secara tak terbatas. Ruang-ruang kebebasan dalam ‘ruang-sosial-baru’ di media sosial itu sekaligus menjadi institusi, yang disadari atau tidak, menjadi instrumen bagi pengesahan atas perbedaan itu.

Sebab media sosial, semisal Facebook, Tweeter, Whatsapp,atau internet secara umum, telah berhasil membentuk dan mengarahkan pikiran, perilaku, dan tindakan sebagian penggunanya. Wacana yang bergulir dalam kemayaan dunia virtual itu, merambah hingga dunia nyata dan melahirkan praktik sosial. Pada awalnya, wacana tersebut memang berasal dari kehidupan sehari-hari. Respons dan reaksi berikutnya, dengan cara menyemukannya ke dalam jagad maya, kian membiakkan beragam pandangan dan sikap dari peresponsnya. Media sosial, selanjutnya menjadi sumber referensi nilai bagi tindakan.

Dengan panji keislaman, Ahok pun dihujat. Kebencian atau kemarahan akibat pernyataannya yang dianggap menodai keyakinan umat Islam telah memicu bangkitnya gerakan masif kalangan muslim. Demonstrasi yang dipelopori FPI tak terhindarkan. Gelombang massa datang dari berbagai penjuru negeri. Jakarta menjadi sasaran perunjukan kemayoritasan Islam di Indonesia.

Untuk mengukuhkan kehadiran secara personal, dan keterlibatan (pembelaan) secara sosial dalam bingkai agama Islam, gambar-diri diabadikan, lalu dibagikan (disebarkan) kembali ke dalam media sosial. Saya menduga, dalam pikiran mereka mengatakan bahwa agama yang dipeluk dan diyakininya itu sedang ia bela. Makanya, atas nama agama di bela, tak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk sampai dan meleburkan diri ke dalam kerumunan massa. Sebagian Jakarta segera menjelma lautan putih.

Tiga hal yang menonjol dalam pemandangan itu, menurut saya adalah: pertama, perbedaan antara kalangan Islam dan Non-Islam. Kedua, perbedaan di tingkat umat sesama Islam. Ketiga,  relasi Negara dan umat Islam yang dicurigai sedang timpang.

Relasi Eksternal

Pada dasarnya, setiap agama memuat doktrin, nilai-nilai, norma-norma, yang menjadi acuan bertingkah laku bagi umatnya. Namun, kondisi dunia yang tengah berpacu dalam kepungan globalisasi menjadikan agama bukan lagi satu-satunya acuan bertindak secara tunggal.Kondisi global ini juga membawa perubahan baru, yang menuntut pentingnya pemahaman, ke dalam konteks kehidupan kita. Sementara mereka (umat) dengan mudah mempercayai dan membela pandangan yang diperoleh dari media sosial tanpa mencoba berpikir kritis, dengan cara-cara pembacaan ‘lama’ atas realitas. Berubahnya konteks pemaknaan (pembacaan) lepas dari kesadaran. Maka segala informasi akan ditelan tanpa harus dikunyah lagi.

Padahal, menurut Irwan Abdullah (2010), segala doktrin, nilai-nilai, dan pola tingkah laku dalam keragaman sebagai substansi agama sejatinya menjadi “religious modalities” yang menentukan bagaimana dunia dengan perubahan-perubahannya dikonsepsikan  dan ditata.Dengan demikian, menurut saya, hal-hal yang dianggap substansial dalam agama ini perlu mempertimbangkan kondisi baru dalam konteks global, yakni fakta keragaman dan perubahan itu sendiri.

Tentu saja bukan keyakinan keimanan agama yang harus diubah. Tetapi relasi di antara umat suatu agama dengan umat agama lain di luarnya. Dengan kata lain, struktur simbolis agama yang secara internal mengacukan perilaku umatnya,sejatinya tetap mengemban tanggung jawab sosialnya untuk turut menciptakan keharmonisan dalam kerangka stuktur sosial. Jika tidak, maka agama menjadi ancaman bagi agama lainnya. Tentu saja sasarannya adalah umat sebagian bagian dari pengemban atribut keagamaannya.

Polarisasi internal

Terpolarisasinya umat dari satu agama yang sama menunjukkan ketidak-seragaman acuan bersikap dan bertindak. Pemilahan struktur simbolis agama dalam struktur sosial berbeda dalam cara masing-masing individu meresponsnya. Kita tidak bisa mengatakan dengan serta-merta bahwa mereka yang tidakikut dalam gerakan bela agama (Islam) melalui aksi demonstrasi yang memutihkan sebagian lanskap Jakarta itu sebagai ‘kurang islami’, dangkal keislamannya, atau diragukan keimanannya. Bagaimanapun, tuduhan-tuduhan semacam ini Saya jumpai juga dalam diskusi atau perdebatan di media sosial.

Ikut terlibat atau tidaknya seseorang muslim dalam gerakan itu, bisa juga karena pengaruh pengetahuannya. Mengingat dominannya pengaruh media dalam membentuk pengetahuan dan kesadaran kita tentang reaksi atas fenomena Jakarta, maka ketelitian, kewaspadaan, dan kemampuan mencermati infromasi dari media (massa/sosial) menjadi penting posisinya. Tanpa sadar, menurut Delanty (2003) dan Ahmed (2007), realitas media mengolah kemanusiaan kita.

Agama dengan satu kitab suci oleh seluruh penganutnya ternyata tidak seragam dalam memaknai satu fenomena yang sama. Ada ruang penafsiran yang berbeda antara wilayah kitab suci dengan ruang sosial dalam struktur sosial kemasyarakatan oleh masing-masing individu.Belum lagi ketika satu agama dipraktikkan oleh umatnya ke dalam sekte-sekte atau aliran yang bermacam-macam. Sesama umat seagama, bahkan saling hujat dan serang, saling menyesatkan. Penekanannya bukan pada pihak mana yang benar, melainkan fakta terbelah-belahnya umat ke dalam pemaknaannya sendiri.

Efek globalilasi memang telak menghantam jantung jagad sosial kita. Lebih dalam lagi merambah hingga ke relung individu. Doktrin tradisional dari agama menuntut kepatuhan umat di tengah kebebasan yang menekankan pada peran penting individu dalam mengolah dan memaknai suatu fenomena. Sepanjang tidak menggugat ketuhanan, maka praktik sosial agama menjadi ruang terbuka bagi perdebatan, sikap, perilaku, dan tindakan. Dengan kata lain, religiusitas dan sosialitas selah terbentang dalam dua kontinum.

Di sini pula tantangannya. Para petinggi masing-masing agama, selain memberikan keteladanan, ia harus memiliki pemahaman memadai dinamika umat tanpa mengabaikan aspek perubahan yang berlangsung di dalam dan di luar lingkungan agama.

Umat dan Negara

Ketika sekelompok orang atas nama agama tertentu mendesak Presiden Republik Indonesia untuk didengarkan aspirasinya, menegaskan kuatnya legitimasi negara terhadap elemen yang diwakilinya. Presiden jelas mewakili negara.

Peristiwa pengerahan massa besar-besaran oleh umat Islam, disusul dengan penyebar-luasan berita dan foto-foto aksi, terkait rencana hingga pasca-aksi, tidak hanya dimaksudkan sebagai gertak bagi agama lain, tetapi juga upaya tekanan bagi negara untuk meraih perhatian. Gelombang ancaman dan tekanan maujud dalam tulisan dan lisan, grafis dan visual. Agama melata dalam titian teknologi.

Hal paling nyata yang tampak dalam pandangan Saya adalah lemahnya daya tawar agama (Islam) di hadapan negara. Penyebabnya, bukan karena agama teleah melemahkan agama. Melainkan pemimpin umat, atau umat kebanyakan, gagal memberikan keteladanan atau menghayati dan mengamalkan doktrin agama secara ideal. Perilaku korupsi, misalnya, dilihat lepas dari agama penganutnya. Padahal, dalam praktik lainnya, agam selalu menjadi identitas atau atribut yang dikait-kaitkan.

Rapuhnya penegakan nilai-nilai atau doktrin agama secara internal, membawa pilihan kepada pihak-pihak eksternal. Seolah tidak mau mengakui kenyataan ini, negara pun segera menjadi sasaran penegakannya. Islam, yang umatnya kalah dalam persaingan menduduki posisi-posisi kekuasaan (politik), yang nota bene mayoritas, justru kian jelas dalam serangkaian aksi-aksi yang digelar itu. Tuntutan pengakuan dari negara sendiri menegaskan kelemahan, jika bukan kekalahan, dalam mengendalikan realitas dalam kerangka struktur sosial dan politik masyarakat dan negara Indonesia.

Agama-agama tidak bisa menutup mata atas fakta perubahan lingkungan dan masyarakat yang menjadi umatnya. Di tengah terdiferensiasinya sumber-sumber acuan bersikap dan berperilaku, peran tradisional agama harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang terus menerus terjadi. Media massa dan sosial menjadi kitab sikap dan perilaku yang tanpa disadari telah memapankan sendiri umatnya. Individualisasi dan estetisasi agama adalah fakta perubahan sekaligus bukti bagi tersingkapnya ruang-ruang kebebasan dengan segala ekspresinya.

Islam sebagai agama mayoritas di negeri Indonesia harus lebih percaya diri dan menunjukkan kekuatannya sebagai teladan yang pantas dalam praktik sosial secara luas. Tantangan pertama yang harus dihadapi dan diatasi adalah menjinakkan umatnya sendiri yang kian terdiferensiasi baik di aras nilai maupun praktik. Agama lain juga tak luput dari tantangan serupa.

Media massa atau sosial memang tidak setaraf dengan kitab suci, tapi pengaruhnya dalam membentuk dan mengarahkan perilaku dan tindakan tak bisa dipungkiri kedahsyatannya.

Kita hanya perlu mengakuinya sambil menyalahkan pihak lain,  atau menyangkalnya sembari memastikan suatu kerangka acuan bersikap yang tunggal dan solid bagi umat tanpa menegasikan keragaman yang dibawa oleh fakta mengglobalnya seluruh bagian dunia.(ep)

Andi Sumar-Karman, Pengajar di Program Studi Antropologi Sosial, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun; Peneliti Budaya di Gnosis Institute Maluku Utara

Berita Terkait

00031354

Total pengunjung : 31354
Hits hari ini : 151
Total Hits : 156707
Pengunjung Online : 1

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)