29 Agustus 2017 | dilihat: 2390 Kali
MENAKAR PERAN TMT DALAM MENGOBATI STRES & DEPRESI, SERTA MENCEGAH TINDAKAN BUNUH DIRI DI ERA MODERNISASI
noeh21

Baru-baru ini masyarakat Indonesia digegerkan  oleh seorang pria di Jagakarsa, Jakarta Selatan melakukan tindakan bunuh diri melalui live streaming. Kasus seperti ini merupakan kasus bunuh diri pertama dalam sejarah Indonesia. 

Wartaone - Jakarta, Berdasarkan pantauan penulis, akhir-akhir ini tindakan bunuh diri memang semakin meningkat di negara Indonesia. Pantauan penulis ini sejalan dengan data yang dimiliki oleh WHO.  Dalam catatan WHO,  tindakan bunuh diri di Indonesia memang memiliki mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. WHO melaporkan, bahwa pada tahun 2010 tindakan bunuh diri di Indonesia mencapai 5.000 kasus dan pada  tahun 2012 mengalami peningkatan 10.000 kasus. (Kumparan online)

Menariknya lagi, ternyata tindakan bunuh diri tidak  hanya berkembang  di  negara-negara miskin, namun tindakan bunuh diri juga berkembang di negara-negara maju secara ekonomi.  Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat melaporkan, bahwa tindakan bunuh diri merupakan penyebab kematian terbesar bagi anak-anak muda yang baru berusia 10-24 tahun. Ada sekitar 4.500 anak muda yang meninggal akibat bunuh diri  setiap tahunnya.  Dr. John Campo,  ahli psikiatri  Ohio State University, mengatakan, “ Rasa  keputusasaan dan rasa sakit yang dalam telah mendorong   mereka mulai mempercayai bahwa mereka lebih baik mati saja.” (Kumparan Online).

Menurut penulis, tindakan bunuh diri itu tidak  bisa dilepaskan dari tiga kesenangan alamiah yang menjadi kebutuhan dasar manusia, yaitu kesenangan asmara, kesenangan sosial dan kesenangan materi.   Apabila tiga kesenangan ini tidak terpenuhi  pada manusia, maka manusia cenderung menjadi stres. Stres yang berkepanjangan berpotensi besar membuat  manusia mengalami defresi. Dalam kondisi defresi, manusia  merasa putus asa dan tersakiti, yang kemudian mendorongnya untuk  mulai berpikir untuk melakukan tindakan bunuh diri.  

Negara Ideal Dambaan Warga Negara

Manusia moderen adalah manusia yang sangat dipengaruhi oleh perilaku negara.  manusia moderen sangat memdambakan Negara Ideal, yaitu suatu negara   yang mampu melakukan pengelolaan dan pendistribusian  kesenangan asmara, kesenangan sosial dan kesenangan  secara adil dan manusiawi.  Apabila sebuah negara mampu mengelola dan mendistribusikan tiga kesenangan alamiah itu secara adil dan manusiawi, maka negara sudah memainkan peran yang besar dalam membantu warga negara menikmati hidup  yang lebih normal.

Apabila warga negara bisa menikmati hidup yang normal, maka  angka bunuh diri  akan lebih mudah dikendalikan dan  diturunkan pada level yang paling rendah.  Sebaliknya, apabila negara tidak mampu mengelola dan mendistrubusikan tiga kesenangan alamiah itu secara adil dan manusiawi, maka  angka bunuh diri akan sulit untuk ditekan, bahkan berpeluang besar  untuk mengalami peningkatan. Peningkatan itu dipicu oleh perilaku negara yang tidak adil dan manusiawi dalam mengelola dan mendistribusikan tiga kesenangan alamiah tersebut.

Bagaimana Jika Negara Ideal itu Belum Ada?

Sekarang muncul pertanyaan penting, bagaimana jika Negara Ideal itu belum ada? Jika Negara Ideal belum ada,  maka peran penyelamatan  harus dimainkan oleh keluarga.  Keluarga  yang hidup di dalam negara yang bermasalah memang berat, karena semuanya harus ditanggung oleh keluarga. Kepala keluarga harus mampu memainkan peranan penting dalam menjaga    stabilitas emosi dirinya dan anggota keluarganya. Kepala keluarga dan anggota keluarga harus sama-sama menyadari, bahwa hidup di  dalam negara yang selalu bermasalah ini tidaklah mudah. Kepala keluarga dan anggota keluarga harus sama-sama menjaga soliditas keluarga, karena keluarga adalah benteng terakhir dalam mengatasi masalahnya. Apabila keluarga tidak berfungsi sebagai benteng terakhir, maka hancurlah manusia moderen. Manusia moderen sudah tidak menikmati Negara Ideal dan tidak menikmati pula Keluarga Ideal. Pada tataran inilah manusia moderen akan mengalami pelemahan secara perlahan dalam bentuk defresi yang berkepanjangan dan bisa berakhir dengan gila, bunuh diri, dan sebagainya.

Terapi Pendampingan: Terapi Pokok Bagi Keluarga

Di era modernisasi yang penuh masalah ini, setiap keluarga dituntut untuk  mampu memberikan Terapi Pendampingan atas anggota keluarga yang sedang bermasalah, seperti di PHK, mengalami kematian, perceraian dan sebagainya. Terapi Berpikir dan Bertindak Positip salah satu produk dari Terapi Mental Terpadu (TMT) merupakan terapi yang paling pokok dilakukan oleh keluarga, jika ada    angggota keluarga yang sedang bermasalah secara emosional. Terapi Berpikir dan Bertindak Positip akan sangat membantu anggota keluarga yang sedang bermasalah secara emosional untuk bisa kembali menikmati kehidupan yang normal.

MPP (Memberikan Pandangan Positip) dan B2P (Bujuk-Bujuk Positip) merupakan dua tindakan dari Terapi Berpikir dan Bertindak Positip yang harus diberikan secara berkesinambungan pada anggota keluarga yang sedang bermasalah. Tindakan MPP dan B2P itu harus diberikan dengan SH2X (Sayangi dan Hargai Sepenuh Hati) dan LDT (Layani Dengan Tulus).  Memberikan MPP dan B2P  dengan dasar  SH2X dan LDT, maka akan sangat membantu anggota keluarga  untuk  lebih bisa cepat pulih dari  stres dan defresi  yang sedang menderanya. Apabila anggota keluarga itu sudah pulih dari  stres dan defresi, maka ia akan  kembali mampu memandang dunia ini dengan hati dan pikiran yang lebih positip.

Apabila tindakan ini dikembangkan terus, tidak menutup kemungkinan, anggota keluarga yang bermasalah tadi  akan berpeluang meraih kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang, yang  bisa jadi, pada waktu ia mengalami stres dan defresi  yang berlebihan, belum ada bayangan seperti itu di dalam pikirannya.  Itulah gambaran positip yang akan dinikmati seorang manusia, apabila  seorang manusia diberikan Terapi Berpikir dan Bertindak Positip oleh  keluarganya.  

Terapi Pendampingan hanyalah  salah satu jenis terapi dari sekian terapi alami yang dikembangkan dalam  Terapi Mental Terpadu (TMT).   Konsep Terapi Mental Terpadu (TMT) lahir dari  perjuangan penulis  yang begitu panjang yang getir lagi melelahkan agar bisa sembuh dari Trauma Psikologi yang penulis alami selama puluhan tahun. Di desak oleh faktor kebutuhan dan tidak  tahan menderita menjalani hidup sebagai pasien yang menderita trauma psikologi yang berkepanjangan,  didukung oleh semangat belajar yang tiada putus, serta ketidakmampuan sistem pengobatan medis moderen dalam memberikan solusi yang tepat.

Apa itu TMT? Secara sederhana, TMT adalah sebuah konsep terapi yang melihat manusia secara integral dan menyeluruh.  Penulis  melihat, bahwa  permasalahan kesehatan manusia tidak bisa  dilihat secara  medis semata. Persoalan kesehatan manusia adalah persoalan yang kompleks dan bersifat sistemik, saling mempengaruhi satu sama lain. Inilah yang menjadi titik lemah konsep kesehatan moderen yang berinduk pada konsep kesehatan Barat yang sekuler. Seakan-akan permasalahan kesehatan manusia moderen bisa diselesaikan dengan pengunaan obat-obat kimia dan alat-alat kesehatan moderen semata. Realitasnya tidak seperti itu dan itulah yang membuat masalah kesehatan manusia moderen menjadi kurang tuntas sehingga manusia moderen kurang bisa menikmati hidup secara sehat dalam arti yang lebih normal.

Penulis  menyarankan agar konsep penanganan masalah kesehatan seperti ini harus diperbaiki. Masalah kesehatan manusia  harus  dilihat secara utuh (terpadu), tidak cukup  dengan pendekatan medis semata.  Pengalaman penulis  sendiri sudah mengkonsumsi obat penenang selama 13 tahun, dan baru bisa lepas dari obat penenang setelah saya belajar menerapkan konsep Terapi Mental Terpadu (TMT).   Saat ini, penulis  sedang berusaha mengembangkan TMT sebagai salah satu konsep terapi kesehatan terpadu secara alami. Penulis mengembangkan TMT ini,  selain untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga,   penulis  berharap TMT ini  bisa memberikan manfaat  yang banyak bagi manusia moderen, karena manusia moderen begitu rentan terkena stres dan defresi yang bisa berujung pada tindakan bunuh diri. Membantu diri pribadi, keluarga dan  manusia moderen agar lebih selamat dari  bahaya stres dan defresi yang mematikan, serta bisa menikmati kehidupan yang normal secara umum  adalah tujuan utama penulis dalam merumuskan dan mengembangkan TMT ini.  Semoga tujuan yang  mulia ini bisa terpenuhi dengan baik.  Aamiin.

(Darmawijaya, S.S.,M.Si, Penemu TMT & Dosen Prodi Ilmu Sejarah Universitas Khairun  Ternate - Provinsi Maluku Utara)

 

Berita Terkait

00058452

Total pengunjung : 58452
Hits hari ini : 190
Total Hits : 229028
Pengunjung Online : 1

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120