28 Februari 2017 | dilihat: 999 Kali
Logika Berpikir Atas Fenomena Kepemimpinan Ahok
noeh21
Basuki Tjahaja Purnama (ist)

Oleh: Darmawijaya & Syahrir Ibnu

WartaOne, Ternate - Hari Rabu (15/02/2017) lalu, Ahok yang sudah menyandang status terdakwa tetap bisa mengikuti Pilkada Cagub DKI untuk periode 2017-2022. Fakta ini memperlihatkan, bahwa Ahok sebagai seorang pemimpin belum mampu memberikan keteladanan secara politik pada rakyat.

Dalam kajian teori politik Islam,   seorang  pemimpin itu seharusnya melindungi dan mengayomi rakyatnya dengan jujur dan adil, sehingga rakyat bisa merasa lebih nyaman berada dibawah kepemimpinannya.   Ahok sebagai pemimpin  tidak menjalan teori politik Islam ini.  Ahok lebih suka menggunakan teori politik yang menghalalkan segala cara untuk meraih dan mempertahankan sebuah jabatan politik. 

Inilah yang membuat Ahok mengalami gesekan yang cukup tajam dengan umat Islam yang ada di Ibu Kota.   Gesekan  itu sudah berjalan cukup lama. Gesekan itu semakin menemukan jalannya, ketika Ahok melakukan penafsiran surat Al- Maidah ayat 51 secara serampangan  di Kepulauan Seribu.

Penafsiran surat Al Maidah ini membuat gaya kepemimpinan Ahok berkembang menjadi pemicu masalah nasional yang sangat serius dan mengkhawatirkan banyak pihak. Menurut penulis, gaya kepemimpinan Ahok seperti itu adalah buah dari logika berpikir Ahok yang keliru. Secara keilmuan, Logika Berpikir Ahok berinduk pada Logika Sekuler dan Marxis, dua logika berpikir yang lahir dari rahim peradaban Barat.

Umat Islam Harus Punya Logika Berpikir Sendiri

Secara internal, munculnya masalah Ahok ini hanyalah bagian dari sekian masalah yang harus dihadapi umat Islam. Dalam konteks negara Indonesia, ini adalah salah satu efek dari lemahnya umat Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri ini. Lemahnya umat Islam Indonesia   disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah aspek proses sejarah dan logika berpikir. Aspek proses sejarah, umat Islam Indonesia sudah mengalami proses sejarah  perbudakan dan kolonial yang begitu panjang selama berabad-abad sehingga berdampak buruk pada mentalitas masyarakat Indonesia.

Proses sejarah perbudakan dan kolonial ini telah menyebabkan matinya nalar kritis masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia sudah menjadi masyarakat “pembeo” yang tidak memiliki sebuah kemandirian berpikir dalam melihat sebuah permasalahan. Walaupun demikian, masyarakat Indonesia masih bersyukur, karena kehadiran Islam sejak akhir abad ke-7 telah  berusaha  mengikis mentalitas perbudakan dan kolonial itu secara perlahan-lahan dan  proses  pengikisan itu masih berlangsung hingga hari ini.

Seandainya masyarakat Indonesia tidak memiliki Islam sebagai alat untuk menegakkan  harga diri, maka masyarakat Indonesia sudah betul-betul tersingkir di negerinya sendiri, seperti yang dialami oleh  orang Indian di Amerika dan orang Aborijin di Australia. 

Islam Adalah Agama Ilmiah

Sayangnya, Logika Berpikir Islam ini belum menjadi Logika Berpikir Akademik di Indonesia, bahkan di dunia Islam sendiri.  Aksi Damai 4 November, 2 Desember 2016 dan 11 Februari kemarin  masih dinilai oleh  sebagian para ilmuan Islam Indonesia  sebagai  perilaku subjektif umat Islam yang begitu fanatik  pada agamanya.   

Padahal secara akademik, aksi yang dihadiri oleh jutaan umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia  bisa dijadikan  bukti secara akademik, bahwa agama Islam memang sangat unggul dalam memandu manusia   untuk berpikir secara proporsional,  yang jauh dari sikap yang destruktif yang membahayakan manusia yang ada di sekitarnya.

Sekarang muncul pertanyaan. Mengapa para ilmuan Islam Indonesia masih berpikir bahwa agama Islam adalah agama yang subjektif yang tidak bersifat berilmiah? Salah satu jawabannya adalah, karena   para ilmuan Islam Indonesia   masih  “terjajah” oleh Logika Berpikir Barat,  yaitu Logika Sekuler dan Logika Marxis.

Logika Sekuler menyatakan,  bahwa agama  (religi) itu adalah keyakinan yang bersifat subjektif dan tidak ilmiah, sedangkan ilmu (sains) adalah pengetahuan yang objektif dan bersifat ilmiah.  Dalam Logika Sekuler ada pemisahan secara tegas antara agama dan sains. Logika Sekuler ini   lahir dari rahim peradaban Barat pada abad ke-15, setelah para ilmuan Barat mengalami trauma hebat dengan agama Kristen yang tidak ilmiah.

Logika Marxis menyatakan sikap yang lebih ganas lagi pada agama.  “agama adalah candu bagi masyarakat”, demikian pernyatan Kalr Marx. Pernyataan Marx inilah yang membuat para pengikut Logika Marxis, seperti PKI di Indonesia menempatkan agama sebagai musuh abadi dalam upaya  mewujudkan “masyarakat komunis”. Kondisi “terjajah” ini harus dibongkar, jika kita tidak ingin hidup dalam dilema dan penderitaan  yang tiada berujung.   

Para ilmuan Islam Indonesia harus bergerak  membebaskan logika berpikir mereka dari   “penjajahan”   yang dilakukan oleh  para ilmuan Barat. Usaha melepaskan diri dari penjajahan itu sudah dirintis oleh beberapa ilmuan Islam, seperti  Ismail Raji al Faruqi dari Amerika, Naquib al Attas dari Malaysia dan  Kuntowijoyo dari Indonesia.  

Bagi mereka,   agama Islam adalah  sebuah keyakinan yang bersifat objektif dan ilmiah.  Objektivitas dan  keilmiahan agama Islam itu bisa dilihat semakin banyaknya   para ilmuan  Barat menjadi para mualaf dunia.  Maurice Bucaille adalah salah satunya. Maurice Buaille menjadi mualaf setelah terpesona dengan objektivitas dan keilmiahan  Al Quran  dalam menjelaskan peristiwa kematian Fir’aun di laut Merah.

Dalam bukunya “Islam Sebagai Ilmu”, Kuntowijoyo menegaskan, bahwa umat Islam akan selalu dalam keadaan bahaya, jika agama Islam belum dijadikan Logika Berpikir secara akademik.    

Penulis pun sepakat dengan  pernyataan Kuntowijoyo ini.  Menurut penulis, Logika Berpikir Islam memang harus dikembangkan menjadi  Logika Berpikir Akademik agar   agama Islam bisa menjadi pelurus dan penyelamat  atas  kerancuan Logika Sekuler dan Marxis. Ini adalah tantangan berat bagi para ilmuan Islam, terutama  bagi mereka yang menggeluti ilmu-ilmu sosial dan budaya  sebagai karir akademik. Semoga tantangan berat  ini bisa dijawab dengan baik dan benar demi menyelamatkan dan mendamaikan  peradaban modern yang lagi sekarat saat ini.

Ini hanyalah sebuah tawaran, dan  pembacalah yang  memutuskan. Tidak ada paksaan di dalam agama Islam. Agama Islam hanya menginginkan agar  manusia  hidup terhormat dan punya harga diri, terbebas dari segala bentuk  penjajahan, apalagi  penjajahan dalam logika berpikir, suatu hal yang sangat vital dalam kehidupan manusia.  Islam itu adalah agama  merdeka dan memerdekakan manusia dalam arti yang sebenarnya. Semoga.........

(Darmawijaya dan Syahrir Ibnu adalah Peneliti di  Lembaga Study Ilmu Peradaban Islam (LSIPI) Maluku Utara)

 

Berita Terkait

00031315

Total pengunjung : 31315
Hits hari ini : 248
Total Hits : 156554
Pengunjung Online : 2

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)