03 November 2017 | dilihat: 1455 Kali
TMT  -  TERAPI MENTAL TERPADU
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA MODERN  DALAM MENJAGA  KESEHATAN MENTAL
noeh21
DARMAWIJAYA S.S, M.SI

Tanggal 6 Oktober 2017, Koran Lokal Ternate, yaitu Harian Malut post memuat sebuah Berita Utama tentang  “Kesehatan Jiwa”.  Harian Malut Post memberitakan bahwa “14 juta orang Indonesia mengalami gangguan  jiwa”. Berita ini didasarkan pada data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Menurut data Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa 14 juta orang penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan jiwa dan 400.000 orang di antaranya mengalami gangguan jiwa tingkat berat seperti Skizoprenia.

Masalah gangguan jiwa ini merupakan salah satu ancaman serius bagi Sumber Daya Manusia  (SDM) Indonesia. Gangguan jiwa memainkan peranan penting dalam menurunkan tingkat produktivitas tenaga kerja produktif. Sebagai tenaga kerja yang produktif seharusnya mampu menjadi tenaga pembangunan yang handal. Namun masalah gangguan jiwa telah membuat  menurunnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sehingga menjadi salah satu foktor utama yang menyebabkan  terjadinya penurunan aktivitas sebagai tenaga kerja produktif.  Dr. Fediansyah, Sp.Kj  selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Nafza Kementerian Kesehatan menyambaikan, bahwa “Estimasi dampak komulatif global masalah kesehatan jiwa dalam hal kehilangan output ekonomi akan mencapai 16,3 triluan dolar Amerika antara tahun 2011-2030.”

Mengingat begitu besarnya dampak masalah gangguan jiwa bagi  aktivitas tenaga kerja tingkat tenaga kerja produktif, maka Kementerian Kesehatan dalam memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini, mengusung  tema “Kesehatan Jiwa di Tempat Kerja” sebagai tema besarnya.  Kementerian Kesehatan sengaja mengambil tema ini dalam rangka mensosialisasikan betapa pentingnya “Suasana Kerja yang Sehat Secara Kejiwaan”   dalam upaya mendorong dan  membantu “Tenaga Kerja Produktif”  mereka bisa lebih nyaman dalam bekerja sehingga mereka  mampu memberdayakan potensi  dirinya dengan cara yang lebih  maksimal. Apabila ini mampu dilakukan oleh instansi-instansi terkait, maka tenaga-tenaga kerja produktif akan berpotensi besar menjadi   tenaga-tenaga pembangunan yang berkualitas yang sangat dibutuhkan bagi terwujudnya Indonesia emas di masa yang akan datang.

TMT KEBUTUHAN DASAR MANUSIA MODERN


Sebelum saya menguraikan secara umum mengapa TMT – Terapi Mental Terpadu menjadi kebutuhan dasar manusia moderen, saya ingin dulu menjelaskan, mengapa manusia modern mudah terkena gangguan kejiwaan. Untuk menjawab pertanyaan ini, saya tertarik pada penjelasan yang diberikan oleh  Erich Fromm, guru besar psikologi kebudayaan Jerman. Erich Fromm menjelaskan, bahwa gangguan kejiwaan  yang dialami oleh manusia modern lebih banyak   disebabkan oleh mentalitas manusia modern yang begitu kapitalis. Dalam bukunya yang berjudul “The Sane Society” yang diterjemahkan oleh Yayasan Obor Indonesia (YOI) dalam bahasa Indonesia dengan judul “Masyarakat Sehat”,  Erich Fromm menjelaskan dengan baik bagaimana peran ideologi Kapitalis yang pada mulanya lahir dari rahim peradaban Barat mulai berkembang menjadi ikon peradaban dunia.

Erich Fromm menjelaskan lagi, bahwa Ideologi Kapitalis yang dikembangkan oleh para ilmuan Barat  telah mendorong manusia modern untuk menggunakan sudut pandang “materialisme” dalam melihat kehidupan ini. Ideologi Kapitalis telah mendorong manusia modern menjadi begitu materialis. “time is money”, demikianlah semboyan hidup manusia kapitalis. Dalam konteks ke-Indonesiaan, Sila Pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam realitasnya sudah bergeser menjadi “Keuangan Yang Maha Kuasa”.  “Uang  adalah  Nomor Satu”, dan masalah ini sangat dirasakan bagi penduduk yang tinggal di kota-kota metropolitan, seperti Jakarta. Jauh sebelumnya, keangkeran hidup di kota Jakarta sudah terwakili oleh sebuah Film Komedi yang berjudul “Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota”.  Jadi apa yang diuraikan oleh Erich Fromm cukup akurat, dimana Ideologi Kapitalis memang sangat  mempengaruhi mental manusia modern. Mentalitas  Kapitalis telah mendorong  manusia modern terjebak pada “Persaingan Yang Tidak Sehat” dalam upaya mendapatkan “Kesenangan Materi”, salah satu kesenangan yang sesuai dengan kebutuhan dasar manusia.  “Persaingan Yang Tidak Sehat” dalam upaya mendapatkan “Kesenangan Materi” inilah yang menjadi pemicu mengapa manusia modern begitu mudah terlibat pada konflik diri dan konflik sosial yang begitu melelahkan sehingga memicu terjadinya “Gangguan Jiwa”  di kalangan manusia modern dalam upaya bisa bertahan hidup dalam menghadapi begitu kompleksnya permaslahan  manusia modern.

Secara teoritis, secara umum kaum pribumi Indonesia, termasuk saya sendiri adalah  korban dari mewabahnya Ideologi kolonial dan kapitalis di tengah-tengah manusia modern dan itulah yang mendorong saya belajar untuk mendalami dan mengembangkan kajian “Mentalitas dan Peradaban” dalam upaya berpartisipsi secara aktif sesuai dengan bidang ilmu yang saya tekuni, yaitu Ilmu Sejarah.  Melalui pendalaman dan pengembangan   atas “Studi Mentlitas dan Perdaban” itulah yang membuat saya berhasil merumuskan sebuah Konsep Terapi Kejiwaan yang Bersifat Terpadu, yang kemudian saya sebut dengan istilah TMT – Terapi Mental Terpadu.   

Sebagai penemu konsep TMT, saya   melihat  bahwa jatuhnya manusia modern pada mentalitas kolonial dan kapitalis, karena dipicu oleh dua hal. Pertama.  Manusia Modern jatuh pada Mentalitas Kolonial dan Kapitalis,  karena dipicu oleh begitu kuatnya pengaruh ilmu pengetahuan sekuler bagi manusia modern. Ilmu pengetahuan sekuler adalah ilmu pengetahuan yang memisahkan secara tegas antara agama dan ilmu pengethuan. Para ilmuan Sekuler berkeyakinan, bahwa agama itu bersifat  subjektif dan irasional, sedangkan ilmu pengetahuan  bersifat objektif dan rasional. Konsep Ilmu Pengetahuan Sekuler adalah konsep ilmu pengetahuan yang lahir dari rahim Peradaban Barat pada abad ke-15.  Untuk menjelaskan  mengapa Konsep Ilmu Pengetahuan Sekuler lahir dari rahim Peradaban  Barat pada abad ke-15, maka kita harus memahami terdahulu sejarah peradaban Barat ketika di dominasi oleh agama Kristen, yang dimulai sejak abad ke-5 hingga lahirnya Ilmu Pengetahuan Sekuler pada abad ke-15.

Manusia Modern jatuh pada Mentalitas Kapitalis,  karena dipicu oleh semakin menguatnya Ideologi Kolonial dan Kapitalis di tengah-tengah manusia modern. Secara ideologi, Kolonialisme dan Kapitalisme merupakan anak kandung dari ideologi sekuler dalam bidang politik dan ekonomi. Selain itu, berdasarkan Teori Tauhid- Teori Penciptaan yang menjadi dasar pokok TMT-Terapi Mental Terpadu,  Ideologi Kolonial dan Kapitalis adalah ideologi yang sejalan dengan dorongan nafsu (energy)  yang ada di dalam diri manusia. Berdasarkan Teori Tauhid, “Kecintaan Pada Materialis” adalah suatu kecintaan alami yang hidup di dalam diri manusia.  Dalam upaya memenuhi “Kecintaan Pada Materialis” itulah yang membuat manusia  cenderung mempergunakan kekuasaan (politik) yang bersifat menindas, seperti yang dilakukan oleh kaum kolonial dalam sejarah Indonesia. 

 

APA ITU TMT?


Apa itu TMT? TMT- Terapi Mental Terpadu adalah  sebuah konsep terapi kesehatan mental  yang dikembangkan dari  Teori Tauhid sebagai Teori  Induk Ilmu Pengetahuan Manusia. Berangkat dari  Teori Tauhid,  TMT berusaha membantu dan membimbing  manusia modern untuk lebih bisa mengenal apa dan siapa dirinya dalam arti yang sebenarnya. Apabila manusia modern sudah mengenal apa dan siapa dirinya dalam arti yang sebenarnya, maka manusia modern akan lebih mampu menahan  dirinya secara proporsional  untuk tidak terjebak pada “Konflik Kepentingan Materialis” yang berlebihan.  Mengapa bisa demikian, karena apabila manusia sudah diberikan pemahaman yang baik dan benar atas apa dan siapa dirinya yang sebenarnya berdasarkan  Teori Tauhid,  maka manusia modern akan lebih bisa menata pikiran dan perilakunya secara proporsional sehingga pikiran dan perilakunya lebih berpeluang melahirkan perilaku sosial yang sehat, yaitu Perilaku Sosial yang Berkeadilan dan Berkemanusiaan. 


Melalui Teori Tauhid, manusia modern  akan diberikan pemahaman yang baik dan benar, bahwa Allah adalah Tuhan yang telah  menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya, termasuk manusia itu sendiri.  Allah menciptakan bumi ini memang untuk dinikmati oleh manusia secara  bersama-sama.  Allah tahu betul  tabiat alami manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya. “Kecintaan Pada Manteri” adalah suatu kecintaan alami yang sudah Allah tetapkan bagi setiap manusia. Setiap manusia yang normal, pasti  memiliki “Kecintaan Pada Materi”.  Apabila di dalam diri manusia tidak  ada “Kecintaan Pada Materi”, maka manusia akan malas untuk belajar dan bekerja, karena tidak ada faktor pendorong yang membuat manusia mau belajar dan bekerja. Jadi ditetapkannya “Kecintaan Pada Materi” oleh Allah dalam diri manusia sebagai sarana untuk mendorong manusia untuk mau belajar dan bekerja dalam membangun peradaban positif di muka bumi. 

Sebagai Sang Maha Pencipta, Allah tahu bahwa “Kecintaan Pada Materi” bisa melahirkan konflik di kalangan manusia.  Supaya  manusia bisa terhindar dari “Konflik Kepentingan Materialis” yang berlebihan, maka Allah sudah menurun Aturan Dasar berupa “Islam “ sebagai “agama yang lurus”, agama yang bisa dipahami dan diterima dengan hati dan nalar sehat manusia, agama yang bisa memandu hati dan nalar sehat manusia untuk bisa bersikap secara proporsional dalam menyikapi materi yang ada di hadapannya. “Perilaku Halal” merupakan bentuk perilaku yang berkeadilan dan berkemnusiaan yang sudah dirancang secara khusus oleh Allah dalam membantu manusia untuk bisa bersikap proporsional sehingga manusia bisa lebih terhindar dari “Konflik Kepentingan Materialis” yang berlebihan.

Apabila “Perilaku Halal” ini dijadikan sebagai panduan dalam memenuhi “Kecintaan Pada Materi”, maka   angka “Gangguan Jiwa” yang dialami manusia modern   bisa diturunkan pada level yang lebih rendah. Begitu pula sebaliknyua jika manusia modern masih berpedoman pada ilmu pengetahuan sekuler,  maka angka manusia modern yang mengalami gangguan jiwa sulit untuk diturunkan pada level yang lebih rendah.  Justru berpeluang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, tanpa bisa dikendalikan. Mengapa bisa demikian, karena Ilmu Pengetahuan Sekuler tidak mampu menjawab secara tuntas tentang  apa dan siapa manusia dalam arti yang sebenarnya, dan sudah terbukti melahirkan dua ideologi yang bersifat menindas sesama manusia, yaitu ideologi kolonial dan ideologi kapitalis.

Berdasarkan uraian  di atas,  saya bisa menegaskan,  bahwa Terapi Mental Terpadu  (TMT) akan  menjadi sebuah “Solusi” sekaligus “Kebutuhan Dasar”  bagi manusia modern. Dalam operasionalnya, TMT  mengutamakan Terapi Ibadah berbasis Teori Tauhid (Shalat, zikrullah dan berdoa, serta belajar berbagi sesuai kemampuan) dan Terapi Berpikir dan Bertindak Positif (MPP, PPS, B2P,PPP, SH2X, LDT, NH & KP). Dua terapi pokok TMT  ini akan menjadi   sarana yang efektif dalam membantu manusia untuk tetap bisa mempraktekkan perilaku positif – perilaku proporsional bagi manusia modern.  Jadi apabila manusia modern mampu menjalani dua terapi pokok TMT ini  secara rutin dan konsisten, maka akan lebih terjaga Kesehatan Mental mereka  yang  sedang berusaha bertahan hidup di tengah-tengah kompleksnya  permasalahan yang ada.

OLEH : DARMAWIJAYA S.S, M.SI
PENEMU TMT DAN DOSEN ILMU SEJARAH UNIVERSITAS KHAIRUN TERNATE

Berita Terkait

00058452

Total pengunjung : 58452
Hits hari ini : 205
Total Hits : 229043
Pengunjung Online : 1

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120