12 Februari 2017 | dilihat: 987 Kali
Jakarta Raya, Indonesia Bahagia
noeh21
Ilustrasi (ist)

Hanya Gubernur Ahok yang Bisa Bertegur Sapa dengan Presiden

Oleh: Indra J Piliang

WartaOne, Jakarta - 15 Februari 2017, penduduk Jakarta memilih Gubernur 2017-2022. Inilah pemilihan yang ketiga kalinya secara langsung. Tahun 2007, Fauzi Bowo (birokrat sipil) mengalahkan Adang Daradjatun (birokrat polisi). Tahun 2012, Joko Widodo (pengusaha yang terjun ke politik) mendepak Fauzi Bowo. Begitulah, setiap lima tahun, Gubernur DKI Jakarta.

Yang lebih hebat, bisa jadi rekor baru tercipta, yakni hanya dalam waktu lima tahun, Gubernur DKI Jakarta berganti sebanyak tiga kali. Pertama, dari Fauzi Bowo ke Joko Widodo. Kedua, dari Joko Widodo ke Basuki Tjahaja Purnama. Ketiga, dari Basuki kepada penggantinya. Tentu, saya berharap, sekaligus berusaha, sosok yang menggantikan itu adalah Anies R Baswedan.

Kita lupakan saja faktor Basuki alias Ahok. Ia tak dipilih menjadi Gubernur, melainkan sebagai Wakil Gubernur saja. Ia pengganti, dalam simulakra politik yang hampir membelah Indonesia dalam etape terpendek dari seorang Joko Widodo: Walikota – Gubernur – Presiden. Ahok tak sedang mengonsep apa-apa, hanya eksekutor dari visi-misi Jakarta Baru: kota modern yang tertata rapi dan manusiawi, dengan kepemimpinan dan pemerintah yang bersih dan melayani.

Jakarta Baru, tentu juga bukan hanya soal Ahok, tapi juga Joko Widodo. Debat Pilpres 2014 membawa frase yang terkenal: perwujudan Jakarta Baru lebih mendekati hasil sempurna kala Sang Nahkoda berpindah beberapa ratus meter dari Balaikota menuju Istana Negara. Evaluasi Jakarta Baru berarti juga penilaian atas kinerja Joko Widodo yang terlihat mengistimewakan Ahok dalam sejumlah kesempatan.

Beberapa Gubernur yang saya kenal baik, tanpa mau disebutkan nama, dalam nada yang kecewa menyampaikan: tak semua Gubernur Provinsi bisa bertegur sapa dengan Presiden Republik Indonesia. Yang mudah: Ahok saja. 

Testimoni sejumlah tokoh dalam pembicaraan informal, hingga tercoret di media massa, juga bernada sama. Jokowi begitu khawatir kepada orang nomor lima di Pemrov DKI Jakarta itu -- Ya, setiap wakil kepala daerah mengendarai mobil dinas nomor lima dalam aturan protokoler. Tentu saja Jokowi layak khawatir, tetapi dengan cara seperti yang ditunjukkan seluruh slagorde pemerintahan sekarang dalam upaya memenangkan Ahok, sangatlah berlebihan.

Saya geleng-geleng kepala, hingga perlahan bersisurut di pemerintahan dengan tak banyak lagi melibatkan diri, kala melihat begitu banyak sumberdaya manusia negara dan pemerintah dikerahkan untuk memenangkan Ahok.

* Ketika Jokowi meninggalkan kursi Walikota Solo, tak banyak perhatian yang ia berikan kepada penggantinya. Jokowi fokus sebagai Gubernur DKI Jakarta. Begitu juga kala Ahok meninggalkan posisi sebagai Bupati Belitung Timur, lantas maju sebagai Gubernur Bangka Belitung, malah terbaca kekecewaan besar dari wakil yang menggantikannya. Ahok gagal menjadi Gubernur Babel, tetapi seluruh beban janji-janji kampanyenya dikerjakan oleh wakilnya yang lantas jadi bupati. Pun, tak tuntas menjadi anggota DPR RI, Ahok dalam waktu singkat meloncati dua posisi: wakil gubernur dan gubernur DKI.

Apakah Indonesia hanya sejengkal waktu, hingga demokrasi melejitkan meteor-meteor politik yang tak lagi peduli pada simpoa: alat hitung China yang sederhana itu? Negara muslim yang paling kompatibel dengan demokrasi liberal ini ternyata tak melihat merah atau birunya darah seseorang. Sekian jabatan bisa diraih dalam waktu cepat, tapi kemacetan malah makin mendekati garasi siapapun yang menjadi penduduk Jakarta.

Padahal, apa kata Indonesia Raya pada bait-bait yang jarang dinyanyikan?

Indonesia, tanah yang mulia // Tanah kita yang kaya // Di sanalah aku berdiri // Untuk s'lama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka // P'saka kita semuanya // Marilah kita mendoa // Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya // Suburlah jiwanya // Bangsanya, Rakyatnya, semuanya // Sadarlah hatinya // Sadarlah budinya // Untuk Indonesia Raya.

Indonesia, tanah yang suci // Tanah kita yang sakti // Di sanalah aku berdiri // N'jaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri // Tanah yang aku sayangi // Marilah kita berjanji // Indonesia abadi.

S'lamatlah rakyatnya // S'lamatlah putranya // Pulaunya, lautnya, semuanya // Majulah Neg'rinya // Majulah pandunya // Untuk Indonesia Raya.

Sengaja saya nukil utuh bait-bait itu untuk ingatkan bahwa Indonesia Raya tidak hanya praktek yang sudah kita lakukan selama 71 tahun dengan Indonesia Raya. Ada dua bagian lagi yang sama sekali jarang diperdengarkan, padahal terbaca begitu dalamnya makna kehadiran lagu itu.

Data mengungkap, betapa dalam Indonesia turun lima peringkat ke posisi 79 dunia dalam Indeks Kebahagiaan Hidup. Indonesia lebih rendah dibanding Singapura (22), Thailand (33), Malaysia (49), bahkan di bawah negara yang tak putus dirundung perang, Somalia (76).

Di dalam negeri sendiri, Jakarta lebih mengalami kemajuan. Pada tahun 2015, Jakarta menduduki peringkat ke-15. Alhamdulillah, setahun kemudian nangkring di urutan ke-12 di bawah dengan nilai 69,21. Di atasnya, terdapat Maluku (72.21); Kalimantan Timur (71.45); Sulawesi Utara (70.79); Maluku Utara (70.55); Papua Barat (70.45); Kalimantan Selatan (70.11); Jambi (70.1); Kalimantan Tengah (70.01); Sulawesi Selatan (69.8) dan Gorontalo (69.28).

Jawa sama sekali tak berbahagia, Sumatera tersisa provinsi yang terkenal dengan Suku Anak Dalam. Tak mudah lagi orang tertawa, kala seluruh emoticon menggantikan suara angin, burung dan sapaan bersahabat di gadset masing-masing kala menikmati kemacetan berjam-jam di jalanan.

*

Saya tidak tahu, bagaimana mengakhiri tulisan ini. Yang saya tahu, salah satu cara untuk berbahagia adalah tersenyum atau bahkan tertawa sebanyak dan seterbahak mungkin dalam kesempatan apapun.

Satu lagi: bermain air, entah itu di selokan, hujan yang datang tiba-tiba, ataupun sungai, danau dan samudera yang membuihkan kisah-kisah patah hati ataupun fragmen percintaan jaman baheula. Semakin banyak air, bukan semakin banyak pulau yang ditiang-pancangi beton; adalah cara paling alami untuk mereguh bahagia.

Tak banyak yang saya lakukan untuk membantu kemenangan Anies R Waswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno. Yang jelas, hampir tak ada yang dinamakan sebagai kemewahan sebagai buzzer nomor satu – lalu belakangan dibalap dengan kesadaran seorang periset ulung alang Pandji Pragiwaksono. Saya akui, Pandji lebih spartan dalam bekerja. Sementara saya, berusaha menahan rasa sesak dan mual di dada dan pikiran, akibat sudah terlalu lama berada dalam praksis politik yang tak berkesudahan. Saya hanya berusaha untuk tetap terjaga, mengelak untuk disebut frustrasi dalam kubangan politik yang diserang banyak isu.

Barangkali, saya mulai kebas atau kebal dalam merespons isu-isu yang bagi kawan-kawan lain merupakan sesuatu yang baru. Tapi yang jelas, kawan-kawan yang lain melakukan dengan berbahagia, termasuk istri saya yang entah kenapa begitu antusias mengumpulkan kawan-kawan sejak taman kanak-kanaknya.

Melihat gerak para relawan ini, saya setidaknya menemukan cara lain untuk mencari bahagia itu: bekerja ikhlas, berdoa khusu’, sembari tetap bernada positif tatkala menghadapi badai kampanye negatif. Pun berpuisi menantang matahari, kala selebaran-selebaran berisikan propaganda hitam menikam di rembang petang hingga pagi.

Saya seakan berlomba dengan diri saya sendiri untuk mencapai batas paling mengerikan bagi seorang aktivis, intelektual, politikus, ataupun manusia: bosan. Demi apa? Jakarta Raya dengan manusia-manusia Indonesia yang bahagia. Bukan Jakarta Baru yang orang-orangnya makin tak peduli dengan apapun lagi, bahkan sekadar berkata di bawah-bawah, menyeberang di hilir-hilir.

Jakarta yang setiap orangnya kini tak lagi cukup masuk satu mobil berdesakan, tapi justru memamerkan jumlah kendaraan yang jauh lebih banyak dari jumlah manusianya.  Untuk apa?

Sang Gerilyawan Batavia

Jakarta, 11 Februari 2017

Berita Terkait

00031320

Total pengunjung : 31320
Hits hari ini : 19
Total Hits : 156575
Pengunjung Online : 1

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)