17 Januari 2017 | dilihat: 1641 Kali
Kegelisahan Sultan Tidore atas Pulau Morotai
noeh21

WartaOne, Jakarta – Pulau Morotai yang terletak di Provinsi Maluku Utara merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang berada di pesisir Samudera Pasifik, berdekatan dengan Filipina, dengan luas wilayah mencapai 1800 kilometer persegi.  

Sebagai pulau yang terlepas dari pulau besar Halmahera, Pulau Morotai tidak memiliki penduduk asli yang menetap secara turun temurun. Penduduk sekarang yang menetap dan beranak-pinak di Pulau Morotai berasal dari Suku Tobelo dan Suku Galela.

Morotai yang selama abad ke 15 dan 16 berada dibawah pengaruh Kesultanan Ternate, saat ini dikenal sebagai ‘Surga di Indonesia Timur’, dengan 25 titik penyelaman yang menyuguhkan keindahan tiada tara. Seperti Tanjung Wayabula, Dodola Point, Tanjung Sabatai Point hingga Saminyamau. Keindahan yang luar biasa dari perairan jernih berwarna biru tua ini, didukung oleh Biota laut yang hidup diantara terumbu karang dan bekas reruntuhan kapal.

Sejarah Panjang Morotai

Banyak peristiwa besar yang terjadi di Pulau Morotai, diantaranya adalah sebagai basis pertahanan selama Perang Dunia II antara Tentara Sekutu melawan Tentara Kekaisaran Jepang.

Selain itu, Pulau Morotai menyimpan banyak peninggalan sejarah. Seperti landasan pesawat, kendaraan lapis baja serta gua persembunyian bekas tentara Jepang yang bernama Gua Nakamura, yang konon berasal dari nama tentara Jepang yang bersembunyi disana selama 30 tahun.

Diantara sekian peninggalan Jepang, salah satunya yang terkenal adalah bangkai pesawat Bristol Beuford yang tenggelam di kedalaman 40 meter, di lautan sebelah selatan Morotai.

Surat terbuka Sultan Tidore untuk Jokowi

Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan yang telah mempersilahkan Jepang menjadikan Pulau Morotai sebagai “elderly” (kampung lansia) atau digunakan sebagai  investasi Jepang, telah menghentak masyarakat dan Sultan Tidore.

Terkait dengan itu, Sultan Tidore, Husain Sjah mempertanyakan, apakah kerja sama dengan Jepang di Morotai sudah direncanakan dengan matang serta dikomunikasikan dan melibatkan rakyat juga Pemerintah Maluku Utara?.

Untuk itu, Sultan Tidore melayangkan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Surat tersebut mempertanyakan ihwal adanya kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan Jepang. Adapun isi surat tersebut:

Kepada Yth

Presiden RI

Ir. Joko Widodo

Assalamualaikum wr.wb.

Dalam menulis warkatul ikhlas ini, saya berharap semoga Allah ajja wajallah memberikan kesehatan dan keafiatan kepada Yang Mulia sehingga dapat menunaikan tugas dan tanggung jawab sebagai kepala negara dengan sebaik baiknya sesuai dengan sumpah yg pernah Yang Mulia ucapkan pada saat dilantik menjadi Presiden RI.

Mohon maaf yang Mulia, sudi kiranya bisa mendengar dan menyikapi apa-apa yg mengusik hati kami di Propinsi Maluku Utara. Semalam tgl 15 Januari 2017 saya mendapat informasi lewat siaran di salah satu tv swasta yg memberitakan bahwa yang Mulia telah melakukan kerjasama dengan Negara tetangga Jepang utk mengelola Pulau Morotai.

Andaikan berita itu benar maka saya ingin bertanya kepada Yang Mulia, apakah kerjasama yang Mulia lakukan itu telah melalui pertimbangan yang menyeluruh? Baik dari sisi ekonomi, politik dan budaya, pertahanan keamanan serta harkat dan martabat bangsa? Dan, apakah dlm kerjasama tsb yang Mulia telah melibatkan pemerintah Morotai dan masyarakat pulau Morotai sebagai pemilik sah pulau tersebut? Sungguh saya sedih kalau penduduk dan pemilik syah pulau morotai tidak dilibatkan.

Jika pertanyaan diatas sudah yang Mulia lakukan, maka sebagai anak kandung dari negeri Maluku Kie Raha memohon kehadapan yang Mulia sudi kiranya yang Mulia bisa secara transparan menunjukan itu kehadapan kami masyarakat Maluku Utara dan lebih khusus lagi masyarakat pulau Morotai. Kenapa ini penting bagi kami? Jawabannya karena pulau Morotai mempunyai sejarah yg sangat penting bagi bangsa Indonesia dan bahkan dunia. Hal lain agar tidak menimbulkan fitnah dan kemudratan dikemudian hari.

Jika sekiranya hal hal yang saya sampaikan diatas belum terpenuhi semuanya, maka atas nama Allah dan Bangsa Indonesia yang saya cintai mohon kiranya yang Mulia mengkaji ulang bentuk kerjasama tersebut. Kegelisahan kami ini, adalah untuk kemaslahatan kita bersama dan anak cucu kita dikemudian hari.

Dari keraton Kesultanan Tidore, kami ingin Rumah NKRI ini dapat Yang Mulia dan kami jaga dan rawat secara bersama sama sehingga semuanya merasa betah dan nyaman tinggal didalamnya.

Akhirnya kepada Sang Pencipta Al Khalik saya berharap kiranya yang Mulia bapak Presiden Joko Widodo di berikan kearifan dan ketajaman matahati utk membawa bahtra Indonesia yg berisi ratusan juta hamba Allah ini ke pulau harapan yng kita dambakan bersama, baldatun tayyibatun wa Rabbun Gafuuur.(dilansir dari facebook Sultan Tidore Husain Sjah, Senin (16/1).

 

Hormat kami

Sultan Tidore, Husain Sjah

(detik/ilham)

Berita Terkait

00031352

Total pengunjung : 31352
Hits hari ini : 96
Total Hits : 156652
Pengunjung Online : 1

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)