26 Maret 2017 | dilihat: 1170 Kali
Gunakan Modus CPNS, HY Warga Babelan Diduga "Sikat" Milyaran Rupiah
noeh21
Fitria A.Hi.Muhammad, SH, Pengacara AH dan SW mewakili tim kuasa Hukum Maskur Husain & Rekan ketika melayangkan surat somasi kepada H Yuli (berpeci) bersama tim Investigasi WartaOne.

WartaOne, Jakarta – H Yuli warga Kaliabang Bekasi Utara diduga melakukan penipuan dengan modus penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang dilakukan dari Tahun 2011 sampai Tahun 2016. Korban penipuan berinisial AH (50) dan SW (55) yang keduanya berasal dari Kebon Mangga RT.001/RW.006 Tanggungan Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Jawa Timur dibujuk untuk merekrut sebanyak-banyaknya sesiapa yang ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil dengan biaya 15.000.000 hingga 70.000.000 per orang.

Awal kejadian tersebut bermula ketika Irfan teman sekator AH menawarkan kepadanya bahwa dia bisa membawa orang untuk di jadikan PNS dengan harga murah di Jakarta. AH yang saat itu berkantor di Pemda Lamongan pun tertarik untuk mencari orang untuk dititipkan kepada Irfan yang pada saat itu tahun 2011 AH mendapatkan 35 orang dikalikan Rp. 15.000.000 jadi Rp. 555.000.000 untuk didaftarkan menjadi PNS dengan perantara Irfan.

Namun, setelah ada pengumuman CPNS 2011 tidak ada satu pun yang diterima menjadi PNS pada pengumuman itu dan pada akhirnya AH pun menuntut pertanggungjawaban Irfan untuk mengembalikan uang yang sudah masuk tersebut.

“Setelah itu saya diajak sama Irfan untuk pergi ke Jakarta menginap di hotel Huswah Tangerang, terus saya ditemui orang yang sama sekali tidak saya kenal yang bernama Kuncoro. Menurut kejelasan teman saya, Kuncoro inilah yang akan menyanggupi dan kami akhirnya menagih uang itu kembali namun Kuncoro dengan bahasanya yang indah tidak usah khawatir bahwa masih ada jalan untuk menjadi PNS dengan jalur lain yaitu jalur khusus. Kami terus pulang disuruh untuk cari tambahan sebanyak mungkin ucap Kuncoro.Dan akhirnya  waktu itu terkumpul sampai 70 orang dengan  DP yang variatif dan terkumpul uang Rp 1.460.000.000 (satu milyar empat ratus enam puluh juta  rupiah) diterima oleh  Kuncoro sebagian berkwitansi sebagian ada yang tidak dan kwitansi ini dibawa oleh teman saya yang di Lamongan itu”. Kata AH dan SW yang sama-sama menjadi korban penipuan, melaporkan kronologis kejadian itu di Kantor Hukum Maskur Husain dan WartaOne di Jl. Utan Kayu Raya, Matraman, Jakarta Timur, Maret 2017.

Belum 1 tahun (lanjut AH), Kuncoro datang ke Jawa Timur dengan seseorang yang lagi-lagi saya tidak kenal, namanya H. Yuli ternyata ini adalah pelimpahan tanggung jawab antara Kuncoro kepada H. Yuli, nah kemudian saya menanyakan bagaimana dengan keuangan yang sudah saya serahkan lalu H. yuli tegas, “semua akan menjadi tanggung jawab saya” katanya.

Setelah pelimpahan tersebut, AH kemudian hanya melakukan komunikasi kepada H. Yuli sampai kadang AH ditemui di Hotel Uswah, Tangerang, kadang juga di temui di rumah makan sederhana Harapan Indah, Bekasi hingga pada akhirnya H. Yuli datang  untuk yang kedua kalinya ke Surabaya untuk menginformasi kepada AH dan menginstruksikan agar semua peserta dikumpulkan untuk bertemu dengan H. Yuli bersama rombongan yang berjumlah empat orang menyampaikan bahwa masih jauh dari kata cukup yang dibutuhkan pada perekrutan jalur khusus itu hingga pada akhirnya terkumpul 173 orang. Tinggal dikalikan saja, 173 orang dikalikan Rp. 15.000.000 yaitu Rp. 2.595.000.000, yangmana nominal uang tersebut diterima H. Yuli secara bertahap. Belum lagi dari SW yang berjumlah 85 peserta dengan DP rata-rata Rp. 30.000.000 yang kalau dijumlah hasilnya Rp. 2.550.000.000. Belum lagi nilai-nilai tambahan yang sering dikirimkan melalui cash ataupun transfer dari korban.

Dan adapun uang yang sudah masuk ke H. yuli sesuai dengan kwitansi awal karena kwitansi kita itu diminta katanya ada proscek dari Kementerian, kwitansi awal itu sejumlah Rp 1.830.000.000 (satu milyar delapan ratus tiga puluh juta rupiah) kemudian kwitansi kedua itu sejumlah Rp 1.650.000.000 (satu milyar enam ratus lima puluh juta rupiah) juga ada lagi uang sejumlah Rp 650.000.000 (enam ratus lima puluh juta rupiah) yang tidak ada kwitansinya. “Waktu itu hanya kita bertiga yaitu beliau (SW), saya dengan pak Yuli saya mau minta tanda tangan katanya sudah tergesa-gesa dengan pesawat dan kami sangat percaya apa yang dilakukan oleh pak Yuli karena selama dengan pak Kuncoro tidak pernah memberikan surat apapun tapi pak Yuli ini sangat teoritis, yang pertama kami diberikan daftar nama yang akan diajukan.

“ini akan saya ajukan ke masing-masing kementerian. Setelah itu turunlah yang namanya nota persetujuan ini sudah disetujui tinggal menunggu NIP”. Kata H. Yuli meyakinkan korban.

AH melanjutkan, “suatu saat keluar lagi persetujuan NIP dan sudah tepampang NIP dimasing-masing peserta, nah itu! sampai perjalanan saat ini pertengahan tahun kalau tidak tahun ketigannya tahun keempat pak Yuli itu sudah menerbitkan SK dari masing-masing kementerian, ini saya sudah mulai berfikir curiga karena dengan era otonomi sekarang kan tidak mungkin Menteri menerbitkan SK karena 2011-2014 itu pemerintah masih melakukan moratorium. Kemudian dikuatkan lagi dia mengeluarkan yang namanya pengantar, katanya pengantar ini akan dipakai untuk mengantarkan dengan SK, dengan NP itu menghadap kemasing-masing tempat kerja. Ironisnya setiap hari H, misalkan yang dibuat pengantar tanggal 10, tanggal 8 saya sudah diinformasikan ada pengunduran jadwal di masing-masing kementerian itu sampai terjadi 3-4 kali  dan terakhir seperti itu terus”. Ungkap AH.

Lanjut AH, sebenarnya saya sudah sejak lama ingin menempuh jalur hokum ketika kecurigaan saya mulai timbul, tapi temen-temen kordinator lainnya melarang saya karna sudah terlanjur jauh dan memperkeruh suasana pada saat itu kalo tidah salah tahun 2014, 2015 dan 2016, di tahun 2017 inilah puncaknya”. Katanya.

Pengembalian

Terbuktilah semua kecurigaan korban, H. Yuli menginstruksikan bahwa siapa yang ingin mundur akan dipersilahkan dan dalam pengakuan AH, dia hanya menerima pengembalian yang pertama Rp. 50.000.000, kemudian Rp. 20.000.000, lalu Rp. 10.000.000, dan terakhir hanya Rp. 5.000.000 atau bila dijumlahkan totalnya hanya Rp. 85.000.000 saja. Sangat tidak sebanding dengan jumlah nominal yang sudah masuk ke kantong H. Yuli beserta kroninya yang juga patut diduga antara Irfan, Kuncoro, dan H. Yuli sudah bersekongkol.

Begitu juga dengan SW yang hingga rumahnya disegel oleh peserta yang merasa tertipu olehnya dengan nilai Rp. 175.000.000 dari kantong pribadinya dan itupun uang deposito istrinya. Alih-alih dikembalikan secara penuh, tapi hanya dikembalikan sebesar Rp. 70.000.000 beserta kwitansinya.

SW sendiri yang ketika itu sanggup mengumpulkan 85 peserta dengan DP Rp. 30.000.000 seperti yang disebutkan diatas bila dijumlahkan juga tidak kalah fantastis yaitu Rp. 2.550.000.000 belum ditambah uang pribadi SW yang diserahkan secara bertahap di tempat yang berbeda jadi total Rp. 3.345.000.000 yang diterima H. Yuli.

Konfirmasi dan Klarifikasi

Pada hari Kamis tanggal 23 Maret 2017, bersama tim Investigasi WartaOne, tim pengacara dari kantor Hukum Maskur Husain & Rekan yang diwakili oleh Fitria A.Hi.Muhammad, SH melayangkan surat somasi langsung ke kediaman H. Yuli  di daerah Babelan, Bekasi Timur yang sebelumnya kami sudah memberitahukan ke Polsek dan RT setempat untuk melakukan investigasi dan somasi serta meminta klarifikasi kepada yang bersangkutan agar memberikan keterangan dan sambutan baik atas kedatangan kami bersama tim.

Setelah kami tiba di kediamannya kami mendapati rumah yang berukuran cukup besar dengan pagar yang hamper menutup seluruh muka rumah namun tampaknya rumah tersebut kosong. Menurut tetangga sekitar, rumah H. Yuli memang jarang ditempati dan terkesan sangat tertutup, bahkan RT setempat pun tidak begitu tau apa kegiatan kesehariannya.

Kemudian kami mendatangi rumah tinggalnya yang lain yang kebetulan tidak jauh dari rumah yang kami kunjungi pertama. Bertemulah kami dengan yang bersangkutan namun malah terjadi perdebatan panjang antara kami dan pihak H. Yuli bersama beberapa orang berbadan tegap dan besar serta suara lantang seolah tidak terima jika majikannya didatangi tim kami dan dituduh melakukan penipuan oleh AH dan SW.

Suasana yang selalu tegang dan terkesan berbelit-belit membuat kami kesulitan dalam menangkap apa yang disampaikan H. Yuli, namun pada intinya H. Yuli membantah semua tuduhan yang di alamatkan kepadanya tersebut dan malah menuduh AH yang bukan-bukan. Meskipun awalnya menolak untuk menerima surat somasi untuk ditandatangani sebagai bukti bahwa tim pengacara AH dan SW sudah datang dan meminta klarifikasi terhadap H. Yuli. Kemudian kamipun bergegas pulang dan meninggalkan lokasi.

Menurut Fitria A.Hi.Muhammad, SH, pengacara AH dan SW ketika diwawancarai oleh tim Investigasi WartaOne bahwa klientnya ini adalah korban dari dugaan tindak pidana penipuan, penggelapan serta dugaan pemalsuan dokumen sebagaimana dimaksud dalam pasal 372, 378 dan indikasi mengarah ke pasal 263 KUHP.

“ ya seperti yang kita ketahui bahwa kemarin kita sudah mengirim surat somasi kesatu yang ditujukan kepada pak Yuli terkait dugaan penipuan dan sebagainya, untuk itulah melalui kami sebagai kuasa hukumnya telah melakukan upaya hukum berupa somasi itu tadi sebagai persyaratan yang kemudian ditindaklanjuti untuk mengajukan gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH). Sembari itu berjalan, alat bukti dan barang bukti sedang kami kumpulkan untuk selanjutnya dapat melaporkan pidananya pada pihak terkait dalam hal ini ke kepolisian”. Ujar Fitri di ruangannya.

Dalam kasus dugaan penipuan tersebut korban menderita kerugian yang sangat besar dari segi materil mapun moril. Betapa tidak, mereka harus bertanggungjawab mengembalikan semua uang yang peserta yang berhasil mereka kumpulkan hingga ratusan peserta dikalikan jutaan uang yang masuk ke kantong H. Yuli sedangkan korban hanya masyarakat awam.

AH dan SW berharap kepada tim pengacara Kantor Hukum Maskur Husain, SH dan rekan dapat menyelesaikan kasusnya tersebut dan berharap H. Yuli dapat segera mengembalikan milyaran uang para peserta dan korban sendiri yang jumlahnya juga bukan sedikit untuk me-nalangi para peserta yang kian marah. (bw-tim)

 

Berita Terkait

00031352

Total pengunjung : 31352
Hits hari ini : 86
Total Hits : 156642
Pengunjung Online : 5

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)