11 November 2016 | dilihat: 513 Kali
Rupiah Lemah Akibat Sentimen Negatif Terhadap Donald Trump
noeh21
Foto: Ist

WartaOne, Jakarta - Pelemahan rupiah pada pembukaan perdagangan Jumat (11/11/2016) dipandang oleh Bank Indonesia bersifat temporer atau sementara, tidak mencerminkan nilai rupiah sesuai fundamental ekonomi domestik saat ini.

Menurut hasil analis Riset FXTM Lukman Otunuga, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan cukup dalam karena sentimen negatif kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS masih membayangi pasar.

Seperti dikutip dari kantor berita Antara, hal itu disampaikan oleh Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Jakarta, Jumat (11/11/2016). menurutnya reaksi yang terjadi di perdagangan hari ini merupakan reaksi pelaku pasar atas analisis-analisis damapak ekonomi menyusul terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). Di mana Trump dikenal memiliki kebijakan ekonomi yang protektif dan konservatif.

"Analisis itu menurut kami sih ada dasarnya, tapi itu buat negara yang sangat berkaitan dengan AS. Maka pada 8-9 November 2016 nilai tukar domestik Meksiko (negara yang berhubungan dagang erat dengan AS) melemah 10 persen dalam sehari," kata Mirza.

Hingga Kamis malam (10/11/2016), analisis dampak ekonomi Trump terus berkembang di pasar keuangan negara-negara mitra dagang AS seperti Meksiko, Afrika Selatan, dan Brazil.

"Sayangnya, di pasar luar negeri, rupiah diperdagangan dalam transaksi pasar "non deliverable forward" (NDF) sehingga tidak mencerminkan fundamentalnya," ungkap dia.

Gejolak kurs di pasar keuangan luar negeri pada Kamis malam itulah yang membuat kurs rupiah di Jumat pagi melemah hingga berada di sekitar Rp13.400.

"Pasar NDF melemah tanpa melihat fundamental Indonesia. Pokoknya melihat mata uang yang lain, yang melemah maka 'trader' karena lihat melemah sehingga pagi rupiah dibuka Rp13.400, mengikuti apa yang terjadi di Meksiko, Brazil, dan lainnya," ujar dia.

Mirza mengatakan BI sudah melakukan dua kali operasi moneter pada Jumat pagi, karena melihat kurs rupiah hingga Jumat siang sudah mencapai level psikologis Rp13.700 per dolar AS. 

Nilai itu, kata Mirza tidak sesuai fundamental ekonomi Indonesia. Ia menerangkan fundamental ekonomi Indonesia hingga awal November 2016 ini justeru dalam keadaan baik dan stabil. Indikatornya, pertumbuhan ekonomi triwulan III-2016 sebesar 5,02 persen, atau terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Filipina.

Neraca transaksi berjalan triwulan III 2016 juga membaik, dengan penurunan defisit menjadi 1,83 persen dari Produk Domestik Bruto. Begitu juga dengan neraca pembayaran Indonesia yang mengalami kenaikan surplus menjadi 5,7 miliar dolar AS pada triwulan III-2016 dari triwulan sebelumnya sebesar 2,2 miliar dolar AS.

"Jadi tidak sesuai fundamental. Pasar itu kalau sudah naik banyak, terus ada analisis negatif supaya punya alasan untuk jual. Saya kan bekas orang pasar saya tahu analisis seperti itu. Kalau harga sudah turun banyak, baru nanti dibuat alasan bagus banget, pasar itu begitu," ungkap Mirza.

Pada Jumat siang, menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar AS Rate (Jisdor), rupiah berada di Rp13.350. Sementara pada pembukaan pasar Jumat pagi, rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta sebesar Rp13.639, atau melemah 508 poin.

Seperti yang diterangkan oleh hasil analis Riset FXTM Lukman Otunuga, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan cukup dalam karena sentimen negatif kemenangan Donald Trump. 

"Ada kekhawatiran di pasar Trump berpotensi memicu kekacauan politik dan global dalam situasi finansial yang rapuh dan penuh kegelisahan investor. Banyak pertanyaan yang belum terjawab dalam periode ketidakpastian yang sensitif ini," katanya.

Ancaman Trump ini menyebabkan pembatalan sejumlah kesepakatan perdagangan membuat pelaku pasar pesimistis dan memicu aksi hindar terutama pada aset di negara-negara berkembang.

Dia berharap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang menyiratkan petumbuhan dapat bertahan dalam situasi eksternal yang serba tidak menentu. 

Optimisme terhadap program amnesti pajak juga diharapkan dapat kembali mendorong momentum positif untuk ekonomi Indonesia.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk, Rully Nova, mengatakan kemenangan Donald Trump membuat suku bunga di Amerika Serikat bisa naik lebih cepat dari perkiraan.

"Nilai tukar rupiah yang masih mengalami depresiasi terhadap dolar AS lebih disebabkan faktor eksternal, terutama dari hasil pemilu presiden Amerika Serikat," katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, pelaku pasar uang juga masih khawatir kebijakan Donald Trump nantinya dapat memicu gejolak pasar keuangan dunia mengingat pernyataan-pernyataan kontroversial yang dia sampaikan saat kampanye. (tirto.id/ep)

Berita Terkait

00030903

Total pengunjung : 30903
Hits hari ini : 113
Total Hits : 155759
Pengunjung Online : 3

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)