09 Maret 2017 | dilihat: 787 Kali
Politik Cabai Lebih Pedas dari Rasanya
noeh21
Budidaya cabai di pot (ist)

WartaOne, Jakarta – Tidak sepenuhnya benar, bahwa harga cabai melambung tinggi karena pengaruh cuaca, sebab pada kenyataannya, produksi cabai di tingkat petani tetap melimpah. Ini adalah pekerjaan kartel untuk membuat keuntungan laksana "percetakan uang", nilai intrinsifnya hanya seharga kertas sementara nilai ekstrensifnya tinggal menuliskan sesuai keinginan di atas kertas.

Ternyata dari petani harga cabai dibeli dengan sistem ijon seharga (cuma) Rp6000 /kg. Seharusnya harga jual di pasaran dipatok 30-40 rb/kg. Sampai di pengepul besar, 80-90% stok cabai justru dialokasikan untuk industri. 10% sisa stok itu yang jadi rebutan di pasaran.

Gilanya lagi, ada kesepakatan (jika tidak mau dibilang persekongkolan) antara pengepul, supplyer & pihak industri untuk mematok harga cabai di pasaran menjadi 180 rb/kg.

Cabai bisa dikeringkan dan di-stok dalam jangka waktu lama dan media penampungnya sangat ringkas. Setelah dikeringkan cabai digiling dan bisa disimpan dalam bentuk serbuk, lebih ringan dan bentuknya semakin kecil namun rasa pedasnya tidak berkurang.

Industri (kartel) yang berbahan dasar cabai sudah disiapkan untuk menampung dengan jumlah berapapun dari petani. Mereka menerima dari pengepul dengan harga murah. Berapapun jumlah yang disetor, kartel tersebut siap menerima.

Agar tidak mencurigakan 10% stok produksi dari petani tetap diedarkan di pasaran. Disini berlaku hukum pasar, jika suply rendah sementara demand konstan maka harga pasti akan naik.

Masyarakat sebagai konsumen "pecandu" cabe akan kelabakan "sakauw"  mendapati harga cabai tinggi. Karena sudah men"candu" cabai, berapapun harganya pasti akan dibeli. Kondisi inilah yang jadi target kartel.

Dengan kuantity 10% hasil produksi cabai yang beredar di pasar, maka bisa dipastikan tidak akan mampu memenuhi kebutuhan pasar, bahkan sekarang sering kita jumpai gorengan di warung-warung sudah tidak lagi ada cabainya. Jikapun ada cabenya wujudnya masih hijau, taste expektasinya jauh yang dari yang diharapkan, tidak pedes lagi.

Dalam kondisi "sakaw" rakyat sebagai konsumen pecandu cabe akan mencari alternatif cabe lain dengan taste yang diinginkan. Saat inilah yang ditunggu-tunggu para kartel untuk membuang simpanan cabe keringnya yang sudah siap edar melalui jaringan retailnya. Pabrik percetakan uang saatnya melaundry menjadi uang beneran.

Beli dari pengepul 10 ribu - 15 ribu per kg. Dengan sedikit proses dan tambahan perasa dijual ke pasar dengan harga puluhan kali lipat. Dihitung bukan lagi menggunakan skala kilogram atau ons, tapi sudah dihitung dengan skala gram layaknya emas atau sabu-sabu. Benar-benar perusahaan "percetakan uang".

Petani cabai tetap menderita dengan kemiskinannya di tengah panen raya harga cabai oleh para kartel.

Para petani cabai sebentar lagi satu persatu akan putus asa, tidak mau lagi menanam cabai. Apakah akan terjadi kelangkaan cabe? Tidak!

Para kartel sudah menyiapkan ribuan hektar ladang cabai, dan rakyat Indonesia pewaris negeri ini akan menjadi pekerja ladang dengan gaji UMR. Kejam? Dalam kacamata demokrasi apa yang dilakukan oleh para kartel tidak boleh dikatakan kejam, a moral atau tidak berperikemanusiaan. Dari kacamata demokrasi apa yang dilakukan oleh kartel adalah sah.

Unsur yang melekat dalam demokrasi bukan hanya kebebasan berpendapat (seperti yang penulis lakukan saat ini), berserikat dan berpolitik. Tapi ada unsur lain yang hampir tidak pernah disampaikan atau lupa disampaikan atau sengaja tidak disampaikan atau disembunyikan oleh para "guru" demokrasi, yakni unsur KEBEBASAN BERUSAHA adalah salah satu unsur dari demokrasi. Tidak boleh ada larangan terhadap individu untuk berusaha.

Kita harus Mandiri, berswasembada cabai di rumah kita sendiri. Hentikan konsumsi cabai kering produksi para kartel dari toko-toko atau outlet mereka.

Cabai adalah tanaman yang mudah ditanam. Bisa kita tanam dipot-pot rumah kita. Kita tanam sendiri, kita panen sendiri. Sisakan yang sudah tua untuk bibit yang akan datang. Jika setiap rumah punya 3-5 pohon cabai dengan masa tanam yang berbeda sudah cukup untuk mensuplai kebutuhan rumah.                       

Mungkin tulisan ini akan dituduh sebagai tindakan provokasi untuk mengganggu stabilitas ekonomi. Tapi tidak. Ini adalah usaha rakyat untuk melindungi dari kerakusan para kartel. Sah menurut demokrasi. Dan usaha ini harus dilindungi oleh negara.

Dalam kondisi seperti ini pemerintah seharusnya melakukan perannya untuk melindungi rakyat sebagai stake holder terbesar negara. Namun biasanya pemerintah akan dihadapkan dengan fakta bahwa kartel tersebut punya kredit di bank BUMN triliunan.

Jika kartel tersebut rugi maka akan membuat kerugian Bank tersebut. Belum lagi alasan ribuan tenaga kerja akan menjadi pengangguran, alasan pendapatan pajak, alasan stabilitas keamanan, dan lain-lain. Yang lebih pelik lagi jika kartel tersebut ternyata adalah salah satu investor politiknya dalam merebut kekuasaan.

Disinilah dibutuhkan sifat kenegarawan yang berpihak kepada rakyat banyak. Disinilah harus kelihatan nyata REVOLUSI MENTAL pada diri pemerintah. Rakyat harus dibebaskan dari penindasan, dibangkitkan dari kemiskinan. Bukan dikorbankan untuk kepentingan politik, Partai, apalagi diri dan keluarga.(ep)

Salam Kebangkitan Pribumi!

By: MS Kalono (Aktivis Pribumi)

Berita Terkait

00030899

Total pengunjung : 30899
Hits hari ini : 51
Total Hits : 155697
Pengunjung Online : 2

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jl. Utan Kayu Raya No. 25 Matraman
Telp/Fax: 021-2298 5718 Jakarta Timur 13120
Rek. Mandiri: 006-00-0270782-0
(an. PT Olan Cali Shanzaki Putra)